Medan, NusantaraTop.co – Intensitas serangan rudal balistik dan drone Iran dilaporkan menurun drastis setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran bertajuk Operation Epic Fury bersama Israel sejak akhir Februari 2026.
Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan video terbaru dari akun resmi Komando Pusat Militer Amerika Serikat di platform X, @CENTCOM, yang dirilis sekitar 11 Maret 2026. Dalam video tersebut diperlihatkan dampak serangan militer AS terhadap sejumlah peluncur rudal milik Iran.
Komando militer AS menyatakan bahwa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan rudal telah melemah secara signifikan sejak operasi dimulai.
Serangan rudal balistik dan drone Iran diketahui telah berlangsung sejak sebelum 28 Februari 2026 sebagai bagian dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer terhadap target strategis Iran pada 28 Februari 2026.

Namun setelah 24 jam pertama Operation Epic Fury, sekitar 1 Maret 2026, intensitas serangan Iran mulai menurun tajam. Hingga 11–12 Maret 2026, tingkat serangan rudal Iran dilaporkan telah turun sekitar 90 hingga 92 persen dibandingkan awal operasi.
Sebagian besar serangan Iran diluncurkan dari wilayahnya sendiri, termasuk dari fasilitas peluncur mobile dan basis militer yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Target utama serangan tersebut meliputi wilayah Israel, terutama kawasan metropolitan Tel Aviv, negara-negara Teluk, serta aset militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Ribuan Target Iran Diserang


Menurut pembaruan resmi militer AS, hingga hari ke-10 operasi, pasukan Amerika telah menyerang lebih dari 5.000 target militer di Iran. Target tersebut meliputi fasilitas peluncur rudal, pabrik produksi senjata, pusat komando IRGC, sistem pertahanan udara, hingga instalasi militer lainnya.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan militer strategis Iran.
“Sejauh ini kami telah menyerang lebih dari 5.000 target. Bomber dari Strategic Command juga menjatuhkan puluhan bom penetrasi seberat 2.000 pon ke peluncur rudal yang berada jauh di bawah tanah,” ujarnya dalam konferensi pers di Pentagon.
Selain itu, Amerika Serikat juga menargetkan sejumlah pabrik produksi drone serangan satu arah yang digunakan Iran dalam berbagai operasi militer.
Serangan ini diklaim berhasil menurunkan secara signifikan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan jarak jauh.
Data militer AS menyebutkan serangan rudal balistik Iran telah turun sekitar 90 persen, sementara serangan drone menurun sekitar 83 persen sejak awal operasi.
Baca Juga : AS–Iran Memanas, 16 Kapal Penebar Ranjau Iran Dihancurkan Dekat Selat Hormuz
Puluhan Kapal Perang Iran Dihancurkan

Operasi militer tersebut juga menyasar kekuatan angkatan laut Iran. Menurut laporan militer AS, lebih dari 50 kapal perang Iran telah dihancurkan atau dinonaktifkan selama operasi berlangsung.
Serangan tersebut melibatkan berbagai kekuatan tempur, termasuk pesawat tempur, bomber strategis, artileri, hingga rudal yang diluncurkan dari laut.
Militer AS juga mengklaim telah menenggelamkan kapal induk drone milik Iran serta menyerang fasilitas penyimpanan ranjau laut.
Target Operasi: Hancurkan Program Nuklir Iran

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Operation Epic Fury memiliki tujuan yang jelas, yakni menghancurkan kemampuan militer Iran serta mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir.
Menurutnya, operasi ini tidak akan menjadi misi militer jangka panjang seperti perang sebelumnya.
“Ini bukan operasi pembangunan negara tanpa akhir. Misi kami jelas dan terfokus: menghancurkan persenjataan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, dan secara permanen mencegah Iran memiliki senjata nuklir,” ujar Hegseth.
Ia juga menilai respons Iran saat ini menunjukkan tanda-tanda melemah.
“Dalam 24 jam terakhir, Iran menembakkan jumlah rudal paling sedikit sejak operasi dimulai,” tambahnya.
Konflik Picu Ketegangan Regional
Di sisi lain, konflik tersebut juga meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk. Iran dilaporkan meluncurkan ratusan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah, termasuk Israel, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lain di kawasan Timur Tengah.
Beberapa serangan juga menargetkan fasilitas energi serta infrastruktur strategis di negara-negara Teluk yang berpotensi memicu gangguan pada pasar energi global.
Selain itu, konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi global.
Hingga saat ini Operation Epic Fury masih terus berlangsung, dan jumlah target militer Iran yang dihancurkan diperkirakan akan terus bertambah seiring intensitas operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut.
Sumber : US Departemen Of War, X & Hudson.org
Editor : Pahotan M Hutagalung












