Aceh Tengah, NusantaraTop.co – Fenomena tanah ambles yang membentuk lubang raksasa di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus mengalami pelebaran dan kini semakin mengkhawatirkan warga sekitar.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial, salah satunya diunggah akun X @WeatherMonitors, terlihat jalan yang sebelumnya dapat dilalui kini telah sepenuhnya hilang, ditelan oleh lubang besar akibat pergerakan tanah. Perkembangan kondisi tersebut terjadi sejak 16 Februari 2026 hingga 23 April 2026.
Dilansir dari Independen Media, fenomena ini sebenarnya telah muncul sejak awal 2000-an. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, dampaknya semakin meluas hingga mengancam lahan produktif dan akses transportasi warga.
Cekungan besar tersebut secara perlahan menggerus kebun dan sawah milik masyarakat. Sejumlah petani dilaporkan kehilangan lahan akibat tanah ambles yang terjadi secara bertahap. Selain itu, jalan utama yang sebelumnya menjadi akses penghubung antarpermukiman kini juga hilang setelah beberapa kali longsor menyeret badan jalan ke dalam lubang.
Kondisi semakin memburuk saat musim hujan, di mana pergerakan tanah menjadi lebih aktif dan meningkatkan risiko longsor susulan.
Warga sempat mengandalkan jalur alternatif sebagai akses pengganti. Namun, berdasarkan informasi dari akun Instagram @keber_gayo, jalur tersebut kini telah ditutup total karena dinilai tidak lagi aman.
“Jalan sudah ditutup total karena berbahaya, bisa amblas kapan saja,” ujar perekam video dalam unggahan tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat batang kayu dipasang melintang sebagai tanda penutupan jalan. Tidak ada lagi aktivitas kendaraan di lokasi tersebut.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah sinkhole seperti yang kerap diasumsikan.
Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan longsoran tanah yang berkembang secara progresif akibat kondisi geologi setempat.
“Lapisan tanah berupa tufa yang tidak padat membuat lereng mudah tergerus dan runtuh, terutama saat terpapar air dalam jumlah besar,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa faktor gempa bumi, seperti gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi pada 2013, serta keberadaan saluran irigasi di sekitar area, turut memperparah kondisi tanah.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya pemantauan berkala serta pengelolaan drainase yang baik guna mengurangi risiko pergerakan tanah lanjutan di kawasan tersebut.(red)












