Ekonomi & BisnisMancanegaraNasionalNewsPolitikTimur Tengah

Rupiah Anjlok Tembus Rp17.661 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak

×

Rupiah Anjlok Tembus Rp17.661 per Dolar AS, Dipicu Geopolitik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kurs dollar AS (USD) terhadap rupiah (IDR) hari ini. (KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)

Jakarta, NusantaraTop.co – Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami pelemahan tajam hingga menyentuh Rp17.661 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin pagi pukul 09.21 WIB.

Dilansir dari Money, mata uang Garuda tercatat langsung terdepresiasi sebesar 0,18 persen ke level Rp17.628 per dolar AS pada awal perdagangan.

Pelemahan rupiah dipicu tekanan eksternal global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik jalur perdagangan Selat Hormuz, aksi militer Israel di Lebanon Selatan, hingga lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang membebani pasar keuangan.

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 7,84 persen ke posisi 109,26 dolar AS per barel, sementara minyak mentah WTI naik 10,48 persen menjadi 105,42 dolar AS per barel.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih berpotensi melemah dalam perdagangan harian.

“Untuk rupiah mungkin diperdagangkan besok, hari Senin, kemungkinan melemah di Rp17.590 sampai Rp17.660. Ada kemungkinan besar 50 poin mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Menurutnya, situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius pasar global, terlebih setelah adanya penyitaan kapal China oleh Iran di tengah pelaksanaan KTT di Tiongkok.

“Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,” katanya.

Kenaikan harga minyak dunia dinilai akan semakin membebani ekonomi Indonesia, khususnya sektor impor energi nasional yang mencapai sekitar 1,5 juta barel minyak.

“Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,” paparnya.

Selain faktor global, sentimen domestik juga ikut menekan nilai tukar rupiah. Salah satunya berasal dari posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 yang mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pelaku pasar juga merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah yang disebut tidak berdampak langsung pada masyarakat desa.

Sentimen negatif lainnya datang dari rencana rebalancing indeks FTSE Russell Juni 2026 yang dikabarkan akan mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung memilih aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat. (red)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights