Medan, NusantaraTop.co – Monumen Nasional Keadilan yang berdiri di Jalan S. Parman, Kota Medan genap berusia 15 tahun. Momentum ini diperingati melalui acara silaturahmi dan syukuran yang digelar oleh penggagasnya, Rahmat Shah, di Rahmat Gallery, Kamis (26/3/2026).
Ratusan undangan dari berbagai elemen masyarakat hadir memadati aula lantai 3. Kegiatan diawali dengan doa dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan refleksi bersama mengenai makna keadilan di tengah dinamika sosial yang masih diwarnai ketimpangan.
Keadilan Harus Nyata, Bukan Sekadar Retorika
Dalam sambutannya, Rahmat Shah menegaskan bahwa keadilan tidak boleh berhenti sebagai slogan semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ia bahkan mengajak seluruh hadirin membangun semangat kolektif melalui yel-yel “Keadilan!” yang disambut lantang dengan “Tegakkan!”.
“Jangan hanya pandai bicara keadilan, tapi kita harus mampu menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terus berbuat baik dan membantu sesama, hidup kita akan lebih berarti,” ujarnya.
Rahmat Shah juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi, komunikasi yang baik, serta kepedulian sosial sebagai fondasi dalam menegakkan keadilan.
Mahfud MD: Simbol Perjuangan Keadilan
Sementara itu, Mahfud MD memberikan apresiasi terhadap keberadaan Monumen Nasional Keadilan yang dinilainya sebagai simbol penting perjuangan hukum dan moral di Indonesia.
Ia bahkan membandingkannya dengan ikon dunia.
“Di dunia ada Patung Liberty di New York, dan di Indonesia hanya ada Monumen Nasional Keadilan di Medan. Ini bukan sekadar bangunan, tapi simbol perjuangan untuk keadilan,” tegasnya.
Mahfud juga mengenang pengalaman saat Rahmat Shah memperjuangkan keadilan melalui jalur hukum, yang menurutnya menjadi bukti bahwa keadilan harus diperjuangkan, bukan hanya diucapkan.
Menurutnya, keadilan merupakan fondasi utama negara sebagaimana tertuang dalam konstitusi. Tanpa keadilan, akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan akan timpang.
Kritik dan Harapan untuk Penegakan Hukum
Di sisi lain, Sekretaris Perkumpulan Garda Nusantara Madani (GNM) Sumatera Utara, Dodi Rikardo Sembiring, menegaskan bahwa monumen tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh pihak, khususnya aparat dan pengambil kebijakan.
“Monumen ini jangan hanya jadi simbol seremonial. Ini tamparan moral bagi kita semua. Keadilan hari ini masih sering terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat kini semakin kritis dan tidak bisa lagi dibungkam dengan retorika semata.
“Kalau keadilan benar-benar ditegakkan, kepercayaan publik akan tumbuh. Tapi jika hanya jadi slogan, maka ketidakpercayaan akan semakin besar,” tambahnya.
Momentum Refleksi Jelang Lebaran
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan makan siang dalam suasana hangat silaturahmi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, hingga berbagai organisasi masyarakat.
Peringatan 15 tahun Monumen Nasional Keadilan ini menjadi pengingat kuat bahwa keadilan bukan untuk sekadar dibicarakan, melainkan harus terus diperjuangkan dan ditegakkan tanpa pengecualian.(red)
Laporan : Dara Mustika
Editor : Pahotan M Hutagalung












