Washington/Hanoi, NusantaraTop.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penurunan tarif yang lebih rendah dari janji awal terhadap sejumlah besar produk ekspor Vietnam, sebuah langkah yang dinilai dapat meredakan ketegangan menjelang tenggat kenaikan tarif besar-besaran pada sebagian besar impor.
Dalam pernyataan resmi pada Rabu (2/7), Trump mengatakan bahwa barang-barang dari Vietnam akan dikenakan tarif sebesar 20 persen, lebih rendah dari yang semula direncanakan. Sementara itu, trans-shipment atau pengiriman barang dari negara ketiga yang melintasi Vietnam akan dikenakan tarif lebih tinggi, yakni 40 persen. Sebagai timbal balik, Vietnam diizinkan mengimpor produk-produk dari AS dengan tarif nol persen.
Pemerintah Vietnam sendiri belum mengonfirmasi besaran tarif tersebut. Namun, dalam pernyataan yang dirilis, Hanoi menyambut baik adanya “kesepakatan dalam bentuk pernyataan bersama” mengenai kerangka perdagangan kedua negara. Pemerintah Vietnam juga berkomitmen memberikan akses pasar istimewa untuk barang-barang AS, termasuk mobil bermesin besar.
Langkah ini menjadi angin segar politik bagi Trump, yang menghadapi tekanan untuk mencapai kesepakatan dagang menjelang batas waktu pemberlakuan tarif tambahan. Meski sebelumnya berhasil mencapai kesepakatan terbatas dengan Inggris dan China, serta sedang membangun kerangka perundingan dengan India dan Jepang, banyak kesepakatan Trump masih berada pada tahap awal.
Vietnam Jadi Mitra Strategis Amerika di Asia Tenggara
Amerika Serikat adalah pasar ekspor terbesar bagi Vietnam, dan hubungan ekonomi, diplomatik, serta pertahanan antara kedua negara semakin erat menjadi penyeimbang terhadap pengaruh strategis Tiongkok di kawasan.
Sejak Trump pertama kali menjatuhkan tarif terhadap barang-barang China pada masa jabatan sebelumnya (2017-2021), ekspor Vietnam ke AS meningkat hampir tiga kali lipat. Data Biro Sensus AS menunjukkan, ekspor Vietnam naik dari kurang dari $50 miliar pada 2018 menjadi sekitar $137 miliar pada 2024. Sebaliknya, ekspor AS ke Vietnam hanya tumbuh sekitar 30% dalam periode yang sama.
Namun, isu “transshipping” – praktik menandai ulang produk dari negara ketiga seperti China menjadi “Made in Vietnam” – menjadi sorotan utama. Ketentuan baru yang diajukan AS untuk menekan praktik ini masih dalam tahap diskusi dan belum memiliki rincian implementasi.
“Transshipping adalah istilah yang seringkali bersifat politis dalam penegakan perdagangan. Bagaimana definisinya dan bagaimana penerapannya akan sangat mempengaruhi masa depan hubungan dagang AS-Vietnam,” kata Dan Martin, penasihat bisnis dari Dezan Shira & Associates.
Efek Domino ke Industri Global
Pengumuman Trump ini langsung berdampak pada pasar saham. Saham produsen pakaian olahraga asal AS seperti Nike, Under Armour, dan VF Corp (produsen The North Face) dilaporkan naik setelah pengumuman tersebut, karena Vietnam adalah pusat produksi utama bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Dalam negosiasi, pihak Vietnam juga meminta AS untuk mengakui negara mereka sebagai ekonomi pasar serta mencabut pembatasan ekspor produk teknologi tinggi ke Vietnam dua isu lama yang terus didorong oleh pemerintah Hanoi.
Kesepakatan ini masih berupa kerangka umum, serupa dengan kesepakatan yang telah dicapai AS dengan Inggris pada Mei lalu. AS juga masih melanjutkan pembicaraan dengan lebih dari selusin negara lain yang ingin menghindari lonjakan tarif sebelum tenggat waktu pada 9 Juli 2025.
Hiebert: Vietnam Bisa Kehilangan Kepercayaan Bila Tarif Diperkeras
Analis senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Murray Hiebert, mengatakan bahwa bila tarif tetap berada di angka 46 persen seperti usulan awal, maka Vietnam bisa merasa dirugikan dan kehilangan kepercayaan terhadap AS.
“Ini bisa berdampak buruk pada kerja sama keamanan yang telah dibangun kedua negara,” ujarnya.
Dengan kerangka kesepakatan baru ini, Vietnam dapat menjaga posisi strategisnya sebagai mitra ekonomi dan sekutu penting AS di Asia Tenggara sekaligus menghindari eskalasi dalam perang dagang yang berkepanjangan. (red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












