Tokyo, NusantaraTop.co – Aktivitas manufaktur di sebagian besar negara Asia kembali menunjukkan pelemahan pada Juni 2025, dipicu oleh ketidakpastian kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) yang menekan permintaan global. Meskipun demikian, beberapa negara mencatat sedikit perbaikan, menandai harapan tipis di tengah prospek pemulihan ekonomi kawasan yang masih suram.
Laporan survei swasta yang dirilis Selasa (1/7/2025) mencerminkan tantangan besar yang dihadapi para pengambil kebijakan di Asia, menyusul langkah-langkah proteksionis dari Presiden AS Donald Trump yang merombak tatanan perdagangan global melalui serangkaian tarif tinggi.
Index Manager Pembelian (PMI) China dan Jepang di Atas 50, Tapi Risiko Eksternal Tetap Berat
China mencatat kejutan positif lewat indeks manufaktur Caixin yang naik ke 50,4 pada Juni dari 48,3 di Mei, menandai ekspansi pertama setelah tiga bulan kontraksi. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan pesanan baru.
“Permintaan dan penawaran membaik di Juni, tapi lingkungan eksternal masih kompleks dan penuh ketidakpastian,” ujar Wang Zhe, ekonom Caixin Insight Group.
Sementara itu, Jepang juga mencatatkan ekspansi pertama dalam 13 bulan. PMI versi au Jibun Bank naik ke 50,1 dari 49,4 bulan sebelumnya, didorong oleh peningkatan output. Namun, permintaan domestik masih lemah akibat ketidakpastian tarif AS yang berlarut.
Korea Selatan dan Asia Tenggara Masih Tertekan
Aktivitas manufaktur Korea Selatan menyusut untuk bulan kelima berturut-turut, berada di level 48,7. Meski demikian, laju kontraksi melambat setelah stabilitas politik membaik pasca pemilihan presiden kilat 3 Juni lalu.
“Ketidakpastian tarif AS dan arah pemulihan ekonomi global masih akan membayangi di paruh kedua tahun ini,” ungkap Ahn Duk-geun, Menteri Perdagangan Korea Selatan.
Di Asia Tenggara, tekanan serupa terasa. PMI Indonesia turun ke 46,9 dari 47,4, Vietnam merosot ke 48,9, Taiwan turun ke 47,2, dan hanya Malaysia yang mencatat kenaikan tipis ke 49,3 dari 48,8 bulan sebelumnya. Semua masih berada di bawah ambang batas ekspansi (50,0).
Tarif AS Jadi Momok, Tenggat 9 Juli Dikejar Banyak Negara
Ketegangan perdagangan meningkat menjelang tenggat 9 Juli 2025, di mana tarif AS bisa melonjak lebih tinggi jika kesepakatan dagang belum tercapai. Lebih dari selusin negara mitra dagang AS berlomba mengejar kesepakatan dengan Washington, termasuk China yang masih bernegosiasi intens.
Namun hingga kini, Jepang dan Korea Selatan belum mendapatkan konsesi signifikan, terutama untuk ekspor utama seperti otomotif.
Kesimpulan: Harapan Ada, Tapi Risiko Masih Dominan
Meskipun ada sinyal pemulihan terbatas di beberapa negara seperti China dan Jepang, para analis menilai tekanan dari lemahnya permintaan global, kebijakan dagang AS, dan pertumbuhan China yang melambat akan terus menjadi hambatan besar bagi sektor industri Asia. (red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












