Timur Tengah, NusantaraTop.co – Dua tahun telah berlalu sejak ribuan militan yang dipimpin Hamas menyerbu Israel selatan dalam serangan mendadak setelah rentetan roket menghantam wilayah tersebut. Mereka menyerang pangkalan militer, komunitas pertanian, dan festival musik terbuka, menewaskan sekitar 1.200 orang — sebagian besar warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia — serta menculik 251 orang lainnya.
Sebagai balasan, Israel melancarkan ofensif besar-besaran ke Jalur Gaza yang hingga kini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menghancurkan kota-kota secara luas. Saat Amerika Serikat berupaya menengahi gencatan senjata setelah hampir dua tahun perang, ribuan warga Gaza kembali melarikan diri dari invasi baru Israel ke Kota Gaza, sementara yang lain berlindung di tempat masing-masing. Banyak yang tak mampu menempuh perjalanan panjang dan berbahaya menuju selatan.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas akibat perang telah mencapai 67.160 jiwa per Senin (6/10/2025).

Perkembangan Terbaru: Perdana Menteri Australia Tegaskan Solusi Dua Negara
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan di hadapan parlemen bahwa negaranya harus melakukan segala upaya untuk memastikan terwujudnya dua negara Israel dan Palestina dalam masa depan tanpa Hamas.
Ia mengecam keras serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, khususnya terhadap festival musik yang mempromosikan “persahabatan, cinta, dan kebebasan tanpa batas”.
“Serangan itu menegaskan satu kebenaran mendasar: Hamas menentang seluruh kemanusiaan dan segala nilai yang kita junjung,” ujar Albanese.
Ia juga menyebut coretan pro-Hamas yang muncul di Melbourne bertuliskan “Glory to Hamas” dan “Oct 7, do it again” sebagai tindakan “menjijikkan dan memalukan.”
PM Selandia Baru Serukan Akhiri Invasi
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters dalam pidatonya di parlemen menyebut serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai “hari kehinaan.”
Namun, ia juga menyoroti respon militer Israel yang berlebihan, yang menurutnya membuat warga sipil Palestina menanggung harga terlalu mahal atas dosa Hamas.
Peters menyampaikan bahwa pemerintahnya mendukung rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, dan menegaskan bahwa negara-negara yang memiliki pengaruh besar harus berperan aktif dalam penyelesaian diplomatik.
Insiden protes juga terjadi di Auckland pada Senin malam, di mana seorang pria ditangkap karena memecahkan jendela rumah Peters saat demonstrasi pro-Palestina berlangsung di luar rumahnya.

Keluarga Sandera Gelar Peringatan Tanpa Netanyahu
Israel pada Selasa (7/10/2025) memperingati dua tahun tragedi serangan Hamas dengan upacara peringatan utama yang digelar oleh keluarga korban, bukan oleh pemerintah.
Hal ini mencerminkan perpecahan politik yang dalam di Israel, di mana banyak pihak menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dapat membebaskan para sandera yang masih ditahan Hamas.

Perundingan Perdamaian AS Dilanjutkan di Mesir
Israel dan Hamas dijadwalkan melanjutkan pembicaraan tidak langsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Selasa, terkait rencana perdamaian yang disusun AS.
Putaran pertama perundingan berlangsung pada Senin, membahas isu utama seperti pelucutan senjata Hamas dan pemerintahan Gaza pascaperang.
Seorang pejabat Mesir mengatakan, kemajuan telah dicapai dalam sebagian besar kesepakatan fase pertama, termasuk pembebasan sandera dan pembentukan gencatan senjata.
Namun, meski Presiden Trump telah memerintahkan Israel menghentikan pemboman, serangan udara Israel ke Gaza masih terus terjadi hingga Senin malam. (red)












