London, NusantaraTop.co – Demi menjaga dukungan Donald Trump terhadap NATO, negara-negara Eropa berjanji akan melipatgandakan anggaran pertahanan mereka menjadi 5% dari PDB. Tapi yang menjadi bahan perbicangan, “mampukah mereka benar-benar menanggung bebannya?”
Janji ini diumumkan dalam KTT di Den Haag, sebagai bentuk kepatuhan terhadap tuntutan Trump yang sejak lama mengeluhkan minimnya kontribusi Eropa terhadap aliansi tersebut. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan, “Amerika Serikat mendukung sekutunya di Eropa sepenuhnya.”
Namun, analis mempertanyakan realisme target tersebut. “Mereka tidak akan mencapai angka itu,” ujar Guntram Wolff dari lembaga Bruegel. “Bagi negara yang sudah punya utang tinggi, menambah belanja pertahanan berarti harus mengorbankan sektor lain atau menaikkan pajak secara drastis.”
Angka dan Realita: Sulit Dipenuhi
Untuk mencapai target 5%, negara-negara Uni Eropa harus meningkatkan anggaran militer dari €325 miliar ( Rp5.525 triliun) menjadi lebih dari €900 miliar (Rp15.300 triliun). Inggris sendiri, dengan utang yang sudah setara 100% dari PDB, memerlukan tambahan £30 miliar (Rp600 triliun) hanya untuk memenuhi target ini.
Sebaliknya, Jerman dinilai paling siap karena stabil secara fiskal. Sementara negara-negara seperti Spanyol dan Slovakia secara terbuka menolak target tersebut, menyebutnya bertentangan dengan sistem kesejahteraan mereka.
“Ini bukan sekadar soal senjata atau militer, tapi juga soal masa depan masyarakat Eropa sendiri,” kata Nick Witney dari European Council on Foreign Relations. “Rakyat yang sudah frustrasi sejak krisis ekonomi 2008 bisa jadi makin mudah terpengaruh oleh populisme.”
Trik Angka dan ‘Akuntansi Kreatif’
Beberapa negara mungkin akan mencoba “memasukkan” pengeluaran yang sudah ada ke dalam kategori baru. Misalnya, di Prancis, sedang dipertimbangkan apakah biaya operasional gendarmerie—yang secara teknis di bawah Kementerian Pertahanan—bisa dihitung sebagai bagian dari anggaran militer.
Dari total 5%, 3,5% ditujukan untuk belanja inti seperti pasukan dan senjata, sementara 1,5% untuk penyesuaian infrastruktur seperti jalan dan jembatan agar bisa dilalui kendaraan militer.
“Dengan celah seperti itu, banyak negara bisa mengklaim mereka sudah menuju target, meskipun realitanya tidak,” kata Wolff.

Welfare vs. War: Dilema Kebijakan
Muncul pertanyaan klasik: senjata atau kesejahteraan? Negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia seperti Polandia, Finlandia, dan negara-negara Baltik relatif lebih mudah menerima peningkatan anggaran pertahanan. Tapi di sisi lain, negara-negara dengan anggaran sosial besar harus menghadapi pilihan sulit.
“Negara-negara ini tetap akan memiliki sistem jaminan sosial, tapi mungkin tidak semewah sebelumnya,” jelas Wolff.
Dengan tenggat waktu yang bisa molor hingga satu dekade, para analis memprediksi bahwa banyak negara akan gagal mencapai target 5%, dan janji-janji ini bisa hilang begitu saja seiring bergantinya prioritas politik.
“Transformasi besar mungkin akan dimulai, tapi tidak secepat atau seefektif yang dibayangkan,” tutup Witney.
Fakta Singkat
- Target NATO baru: 5% PDB untuk pertahanan
- 5% untuk militer inti, 1.5% untuk infrastruktur pendukung
- Uni Eropa butuh tambahan €600 miliar per tahun
- Inggris butuh tambahan £30 miliar
- Spanyol dan Slovakia menolak target, utamakan kesejahteraan rakyat
sumber : reuters.com
Redaksi : NusantaraTop.co
Editor: Pahotan M Hutagalung












