NusantaraTop.co – Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang kini menjadi masalah di berbagai perairan dunia, termasuk di Indonesia. Secara alami, setiap hewan memiliki predator untuk mengendalikan populasinya, termasuk ikan sapu-sapu yang berasal dari wilayah Amazon, Amerika Selatan.
Ikan ini mulai menyebar secara global sejak tahun 1980-an melalui perdagangan ikan hias. Popularitasnya meningkat karena dianggap mampu membersihkan akuarium. Namun, masalah muncul ketika ikan tersebut dibuang ke sungai karena ukurannya yang semakin besar.
Di luar habitat aslinya, ikan sapu-sapu tidak memiliki predator alami yang cukup efektif. Hal ini membuat populasinya berkembang pesat, terutama di perairan beriklim hangat.
Pakar perikanan dari Salisbury University, Noah Bressman, menyebut ikan sapu-sapu kini telah menyebar luas dari Amerika Serikat hingga India. Kemampuannya bertahan di air kotor serta menghabiskan alga membuat spesies ini mengancam keseimbangan ekosistem dan mengalahkan ikan lokal.
Sementara itu, pakar konservasi ikan dari IPB University, Charles PH Simanjuntak, menjelaskan bahwa di habitat aslinya, ikan sapu-sapu memiliki sejumlah predator alami.
Beberapa di antaranya adalah ikan Common Snook, Tarpon, buaya Spectacled Caiman, serta burung Neotropic Cormorant.
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ujarnya.
Di Indonesia sendiri, predator alami ikan sapu-sapu masih terbatas. Charles menyebut ikan lokal seperti ikan baung dan ikan betutu berpotensi memangsa ikan sapu-sapu, meski hanya efektif pada fase juvenil atau ukuran kecil.
“Pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil berukuran 0,6 hingga 1,0 sentimeter,” jelasnya.
Minimnya predator membuat ikan sapu-sapu sulit dikendalikan di perairan Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuang ikan ini ke sungai.
Langkah pencegahan menjadi kunci utama agar populasi ikan invasif tersebut tidak semakin merusak ekosistem perairan dan mengancam keberadaan spesies lokal.
Editor : Pahotan M Hutagalung












