MancanegaraPolitik

Intelijen Estonia: Rusia Belum Mampu Serang NATO, Putin Dinilai Tak Ingin Akhiri Perang Ukraina

×

Intelijen Estonia: Rusia Belum Mampu Serang NATO, Putin Dinilai Tak Ingin Akhiri Perang Ukraina

Sebarkan artikel ini
Dalam foto yang disediakan oleh layanan pers Brigade Mekanis Terpisah ke-93 Kholodnyi Yar Ukraina, terlihat sebuah gedung apartemen rusak di kawasan permukiman setelah serangan udara Rusia di Kramatorsk, wilayah Donetsk, Ukraina, Minggu, 8 Februari 2026. (Iryna Rybakova/Brigade Mekanis Terpisah ke-93 Ukraina via AP)

London, NusantaraTop.co – Rusia dinilai belum memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan terhadap NATO dalam waktu dekat. Namun Moskow disebut tengah menyiapkan rencana besar untuk memperkuat kekuatan militernya di sepanjang perbatasan timur aliansi tersebut, tergantung pada hasil akhir perang di Ukraina.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Intelijen Luar Negeri Estonia, Kaupo Rosin, dalam pengarahan daring kepada sejumlah jurnalis menjelang publikasi laporan keamanan tahunan Estonia.

Rosin menegaskan, saat ini Rusia belum memiliki sumber daya yang cukup untuk menyerang NATO tahun ini atau tahun depan. Namun, Kremlin berencana membentuk unit-unit militer baru dan melipatgandakan kekuatan pasukannya di perbatasan NATO hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan sebelum perang Ukraina.

“Untuk saat ini tidak ada cukup sumber daya bagi Moskow untuk meluncurkan serangan terhadap NATO,” ujar Rosin. Namun ia menambahkan, rencana tersebut sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina terkait penghentian konflik.

Menurutnya, Rusia masih harus mempertahankan sebagian besar kekuatan militernya di wilayah pendudukan Ukraina serta di dalam negeri guna mencegah potensi serangan balasan dari Kyiv.

Putin Dinilai Tak Ingin Hentikan Perang

Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan Wakil Perdana Menteri Rusia Tatyana Golikova dalam pertemuan mereka di Kremlin, Moskow, Selasa, 10 Februari 2026. (Vyacheslav Prokofyev/Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Dalam paparannya, Rosin juga menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin saat ini belum menunjukkan keinginan untuk menghentikan invasi yang telah berlangsung hampir empat tahun tersebut.

Putin, kata Rosin, masih meyakini bahwa Rusia pada akhirnya dapat memenangkan perang secara militer dan bahkan merasa mampu “mengakali” Amerika Serikat dalam perundingan damai.

Informasi itu, menurut Rosin, didasarkan pada intelijen yang diperoleh Estonia dari diskusi internal pejabat Rusia. Ia menyebut Washington masih dipandang sebagai “musuh utama” oleh Moskow.

Meski pejabat Rusia secara terbuka menyatakan ingin mencapai kesepakatan damai, mereka dinilai belum menunjukkan kemauan untuk berkompromi.

Respons Gedung Putih

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menanggapi pernyataan tersebut dengan menyebut negosiator Presiden Donald Trump telah membuat “kemajuan luar biasa” dalam upaya mengakhiri perang.

Pejabat tersebut menyinggung kesepakatan di Abu Dhabi yang dimediasi AS, Ukraina, dan Rusia terkait pembebasan lebih dari 300 tahanan sebagai bukti bahwa proses negosiasi berjalan maju.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya juga menyebut Washington memberikan tenggat waktu hingga Juni bagi Kyiv dan Moskow untuk mencapai kesepakatan penyelesaian konflik.

Namun hingga kini belum ada terobosan signifikan terkait isu-isu utama dalam pembicaraan tersebut.

Serangan Rusia Berlanjut

Di tengah proses diplomasi, serangan militer Rusia terhadap Ukraina masih terus berlangsung. Pada Selasa pagi, pesawat Rusia menjatuhkan tujuh bom luncur di Sloviansk, wilayah Donetsk, yang menewaskan seorang anak perempuan berusia 11 tahun dan ibunya. Sedikitnya 16 orang lainnya dilaporkan terluka.

Serangan drone Rusia di wilayah lain Ukraina juga menyebabkan sejumlah korban luka, termasuk anak-anak.

Rosin menilai konflik kemungkinan akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan, kecuali terjadi situasi “katastropik” yang mengancam posisi Putin di dalam negeri.

Ia juga mengindikasikan bahwa laporan optimistis yang sampai ke meja Putin bisa jadi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya di medan perang.

“Semakin ke bawah dalam rantai komando, semakin banyak yang memahami betapa sulitnya situasi di lapangan,” ujar Rosin.

Analis Rusia dan mantan penasihat pemerintahan AS, Fiona Hill, menilai baik Putin maupun Trump sama-sama dikelilingi oleh orang-orang yang cenderung menyampaikan informasi yang ingin mereka dengar.

Perang Rusia-Ukraina pun hingga kini masih menyisakan ketidakpastian, baik di medan tempur maupun di meja perundingan internasional.(red/ap news)

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights