Yaman, NusantaraTop.co – Laut Merah kembali menjadi medan pertempuran berdarah. Dalam rentang waktu beberapa hari saja, kelompok pemberontak Houthi menenggelamkan dua kapal kargo raksasa dan menculik sejumlah awak kapal. Peristiwa ini terjadi meski pasukan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tengah gencar melakukan serangan udara untuk menghentikan aksi teror kelompok tersebut.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi terhadap kapal Eternity C, milik Yunani, yang dihantam secara brutal oleh drone bersenjata, perahu peledak, serta rudal balistik dan jelajah selama tiga hari berturut-turut. Kapal itu akhirnya tenggelam pada Rabu (9/7/2025) setelah ledakan dahsyat mengguncang dek utama.
Kematian dan Penculikan di Tengah Laut
Sedikitnya empat awak kapal tewas, satu di antaranya kehilangan kaki dalam serangan mengerikan tersebut. Enam lainnya ditemukan selamat di laut, namun kemudian disandera oleh pemberontak Houthi.
Menurut misi angkatan laut Uni Eropa di Laut Merah, kapal Eternity C mengangkut 25 orang kru, terdiri dari 21 warga Filipina, satu warga Rusia, dan satu warga India, serta tim keamanan bersenjata berjumlah tiga orang. Sementara itu, operasi penyelamatan telah berhasil mengevakuasi lima awak Filipina dan satu orang India.
Serangan terhadap kapal Magic Seas, sebuah kapal kargo lainnya, juga dilaporkan terjadi pada Minggu lalu, menandai meningkatnya agresi Houthi setelah sebelumnya sempat menghentikan serangan dalam beberapa bulan terakhir.

Video Mencekam dan Teror di Gelombang VHF
Rekaman yang dirilis kelompok Houthi memperlihatkan ledakan besar dan detik-detik Eternity C tenggelam secara dramatis. Dalam rekaman radio VHF, terdengar seorang pemberontak diduga menawarkan awak kapal untuk meninggalkan kapal. Namun, tidak jelas apakah tawaran tersebut benar-benar dijalankan dan berapa banyak awak yang berhasil melarikan diri.
Dalam pernyataan resmi di platform X, Kedutaan Besar AS di Yaman mengutuk aksi tersebut dan mengungkapkan bahwa beberapa kru kemungkinan besar diculik oleh Houthi.
“Setelah membunuh rekan-rekan mereka, menenggelamkan kapal, dan menghambat upaya penyelamatan, para teroris Houthi telah menculik banyak kru selamat dari Eternity C,” tulis Kedubes AS.



Trump Gempur Balik lewat “Operation Rough Rider”
Merespons kekerasan yang tak terkendali, Presiden AS Donald Trump meluncurkan operasi besar-besaran bertajuk “Operation Rough Rider”. Dalam kurun 44 hari, militer AS telah melancarkan lebih dari 800 serangan udara ke posisi Houthi di Yaman, termasuk pemboman karpet di Pelabuhan Minyak Ras Isa pada April lalu yang menyebabkan ledakan besar dan kebakaran hebat.
Langkah ini tidak hanya dimaksudkan untuk menghentikan serangan terhadap jalur perdagangan vital dunia di Laut Merah, tetapi juga untuk melemahkan pengaruh Iran terhadap kelompok militan yang berpotensi menyerang Israel. (red)
Sumber : The Sun
Editor : Redaksi












