New York, NusantaraTop.co – Menjelang pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini, investor global kembali dihantui rasa deja vu penuh harapan akan tercapainya kesepakatan dagang, namun waswas hasilnya tak seindah yang dibayangkan.
Pasar saham dunia melonjak pada Senin (27/10) setelah pejabat AS mengumumkan kedua negara telah menyusun kerangka kesepakatan yang mencakup rencana penurunan tarif impor AS terhadap produk China serta kelonggaran ekspor logam tanah jarang dari Beijing.
Indeks S&P 500 di Wall Street naik 1% dan mencetak rekor tertinggi baru, sementara bursa saham di Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang juga menguat. Sebaliknya, harga emas turun tanda bahwa investor mulai berani mengambil risiko.
Fenomena ini mengulang pola yang kerap terjadi selama masa pemerintahan Trump, di mana pasar keuangan bergejolak akibat ancaman tarif dan kemudian pulih saat muncul sinyal negosiasi positif.
“Setiap kali muncul headline besar dari Trump, pasar sempat goyah lalu pulih kembali. Pola ini selalu berulang,” ujar Evelyne Gomez-Liechti, Strategis Multi-Aset di Mizuho.
Di kalangan investor Wall Street, pola ini bahkan dijuluki “TACO” (Trump Always Chickens Out), yang berarti Trump selalu melunak setelah bersikap keras terhadap mitra dagangnya.
Beberapa pekan sebelumnya, saham global sempat melemah akibat ancaman Trump menaikkan tarif hingga 100% terhadap produk China serta pembatasan ekspor perangkat lunak buatan AS. Namun, jelang pertemuan dengan Xi Jinping, saham China justru menguat selama sepekan terakhir.
Ross Hutchison, Kepala Strategi Pasar Zona Euro di Zurich Insurance Group, menilai banyak manajer investasi yang mulai kembali optimistis.
“Masih ada ruang bagi investor untuk masuk ketika ada kabar positif, karena mereka sudah lama berhati-hati akibat ketidakpastian perdagangan global,” katanya.
Optimisme dan Risiko di Depan Mata
Meski peluang kesepakatan terlihat besar, sebagian analis tetap mengingatkan risiko kekecewaan.
Thomas Christiansen dari Union Bancaire Privée di London mengatakan, kedua pihak kemungkinan besar akan mencari jalan tengah tanpa perlu ‘tampil keras’ demi kepentingan politik domestik.
Sementara itu, langkah Federal Reserve yang diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga minggu ini juga bisa memperkuat sentimen positif di pasar. Namun, euforia tersebut dapat tergerus jika laporan keuangan perusahaan teknologi terutama di sektor kecerdasan buatan (AI) tidak sesuai ekspektasi.
“Pasar cenderung lebih sensitif terhadap kabar buruk ketimbang kabar baik,” ujar Tracy Chen, manajer portofolio di Brandywine Global.
Art Hogan, Kepala Strategi Pasar di B. Riley Wealth, menambahkan bahwa rata-rata tarif timbal balik antara AS dan mitra dagangnya kini diperkirakan akan stabil di kisaran 15%.
“Namun jika ada perubahan besar terhadap ekspektasi itu, risiko koreksi pasar cukup tinggi,” tegasnya.
Thierry Wizman dari Macquarie juga mengingatkan bahwa kesepakatan awal antara AS dan China kerap gagal ditindaklanjuti.
“Sejarah menunjukkan negosiasi keduanya sering kandas meski sudah ada perjanjian awal. Antusiasme pasar kemungkinan hanya sementara,” tulisnya dalam catatan riset. (red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












