Washington, NusantaraTop.co – CEO OpenAI, Sam Altman, secara terbuka membela kerja sama terbaru perusahaannya dengan Pentagon, Sabtu (waktu setempat), sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan lembaga federal menghentikan penggunaan teknologi milik perusahaan pesaing, Anthropic.
Pernyataan tersebut disampaikan Altman melalui platform X, beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran. Ia menjawab berbagai pertanyaan publik terkait kesepakatan yang memungkinkan Departemen Pertahanan AS menggunakan model kecerdasan buatan (AI) OpenAI pada jaringan rahasia pemerintah.
“Saya ingin menjawab pertanyaan tentang kerja sama kami dengan Departemen Pertahanan dan pemikiran kami dalam beberapa hari terakhir,” tulis Altman.
Dalam pengumuman resmi sebelumnya, Altman menegaskan bahwa keselamatan AI dan distribusi manfaat teknologi secara luas menjadi inti misi OpenAI. Ia menyebut dua prinsip utama perusahaan yakni larangan pengawasan massal domestik serta tanggung jawab manusia dalam penggunaan kekuatan militer, termasuk sistem senjata otonom.
Menurutnya, prinsip tersebut juga tercermin dalam hukum dan kebijakan Departemen Pertahanan AS sehingga dimasukkan ke dalam perjanjian kerja sama.

Pemerintah AS Hentikan Teknologi Anthropic
Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon terjadi di tengah kebijakan pemerintah AS yang memerintahkan seluruh lembaga federal menghentikan penggunaan teknologi Anthropic dalam waktu enam bulan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan pihaknya menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasokan terhadap keamanan nasional.
CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menolak permintaan Pentagon agar teknologi AI perusahaan dapat digunakan untuk “semua tujuan yang sah,” dengan alasan kekhawatiran terhadap pengawasan massal domestik dan penggunaan senjata otonom sepenuhnya.
Altman menjelaskan bahwa perbedaan pendekatan kontrak menjadi salah satu alasan Pentagon menerima OpenAI. Menurutnya, Anthropic lebih menekankan larangan spesifik dalam kontrak, sementara OpenAI merasa cukup dengan rujukan hukum yang berlaku.
Baca Juga : Momen Canggung Sam Altman dan Dario Amodei di India AI Impact Summit, Rivalitas OpenAI–Anthropic Kembali Disorot
Awalnya Hanya Proyek Non-Rahasia
Altman mengungkapkan bahwa OpenAI awalnya hanya berencana mengerjakan proyek non-rahasia dengan Pentagon. Namun, pembicaraan berkembang cepat dalam beberapa hari terakhir hingga mencakup pekerjaan pada sistem rahasia.
“Kami melihat Departemen Pertahanan membutuhkan mitra AI, dan kami ingin mendukung misi penting mereka,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak ada tekanan ataupun ancaman dari pemerintah sebelum kesepakatan tercapai. Bahkan, pejabat Pentagon disebut terkejut OpenAI bersedia mempertimbangkan pekerjaan bersifat rahasia.
Kekhawatiran soal Pengawasan dan Masa Depan AI
Altman mengakui aspek paling sulit dalam negosiasi adalah isu pengawasan terhadap pihak luar negeri. Ia menyatakan memahami praktik intelijen antarnegara, namun tetap menilai masyarakat perlu mempertimbangkan dampaknya secara serius.
“Salah satu prinsip terpenting bagi saya adalah AI harus didemokratisasi, dan pengawasan berlebihan bisa memperburuk hal itu,” katanya.
Meski demikian, Altman menegaskan keputusan akhir tetap berada pada proses demokrasi pemerintah, bukan individu atau perusahaan teknologi.
Ia juga menyebut kemitraan erat antara pemerintah dan perusahaan pengembang AI menjadi faktor penting dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.(red)
Sumber : FOX Business
Editor : Pahotan M Hutagalung












