Mancanegara

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei Kian Terisolasi, Para Penasehat Militer Tewas Diserang Israel

×

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei Kian Terisolasi, Para Penasehat Militer Tewas Diserang Israel

Sebarkan artikel ini
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara pada peringatan 36 tahun wafatnya pemimpin Revolusi Islam Iran 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini, di makam Khomeini di wilayah selatan Teheran, Iran, 4 Juni 2025. Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS/File foto.

DUBAI/LONDON, 17 Juni 2025 NusantaraTop.co – Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, kini menghadapi masa-masa paling sunyi dan genting dalam kepemimpinannya selama lebih dari tiga dekade.

Rentetan serangan udara Israel sejak Jumat lalu telah menewaskan sejumlah tokoh penting di lingkaran terdekat Khamenei — termasuk Panglima Tertinggi Garda Revolusi Iran Hossein Salami, Kepala Divisi Dirgantara Amir Ali Hajizadeh yang memimpin program rudal balistik Iran, dan kepala intelijen Mohammad Kazemi. Ketiganya merupakan pilar utama dalam strategi pertahanan dan keamanan nasional Iran.

Menurut lima sumber yang akrab dengan proses pengambilan keputusan di lingkaran elit Iran, kehilangan ini membuka celah strategis besar yang meningkatkan risiko kesalahan kalkulasi di bidang pertahanan dan stabilitas internal. Seorang sumber yang kerap menghadiri rapat bersama Khamenei menyebut situasi ini sebagai “sangat berbahaya” bagi masa depan Republik Islam tersebut.

Para penasehat yang gugur termasuk dalam kelompok inti sekitar 15–20 orang, terdiri dari komandan militer, ulama senior, dan politisi, yang biasa berkumpul secara mendadak atas undangan kantor Pemimpin Tertinggi untuk membahas keputusan-keputusan krusial. Mereka dikenal sangat loyal terhadap Khamenei dan ideologi revolusi Islam.

Baca Juga : Iran Desak Trump Paksa Israel Gencatan Senjata, Netanyahu: “Kami Menuju Kemenangan!” 

Meski bersikap keras kepala dan penuh kecurigaan terhadap Barat, Khamenei dikenal sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dan selalu meminta masukan dari para penasihatnya. Sejak menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989, ia telah selamat dari berbagai krisis domestik dan internasional berkat pendekatannya yang konservatif namun strategis.

“Dua hal yang pasti tentang Khamenei: dia sangat keras kepala, tapi juga sangat berhati-hati. Itulah yang membuatnya bertahan lama di puncak kekuasaan,” ujar Alex Vatanka, Direktur Program Iran di Middle East Institute, Washington.

Putra Khamenei Muncul ke Permukaan

Situasi genting ini mendorong munculnya spekulasi tentang peran meningkat dari putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, dalam urusan negara. Banyak pengamat menilai bahwa Mojtaba dapat menjadi sosok kunci dalam transisi kekuasaan jika krisis terus berlanjut.

Fokus utama Khamenei tetap pada kelangsungan rezim. Sejak tahun 1999, ia telah tiga kali mengerahkan Garda Revolusi dan milisi Basij untuk menumpas gelombang protes besar. Namun, tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berkepanjangan telah menambah kerentanan rezim di tengah ketidakpuasan publik yang terus membesar.

Kini, di tengah ketegangan regional yang meningkat dan kehilangan tokoh-tokoh kunci, masa depan kepemimpinan Khamenei memasuki babak penuh ketidakpastian.

Pantau terus NusantaraTop.co untuk pembaruan seputar situasi geopolitik Timur Tengah.

sumber : Reuters

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights