Ekonomi & BisnisMancanegaraPertanian

Petani Prancis Intensifkan Aksi di Paris, 30 Ton Kentang Dibongkar Tolak Perjanjian Dagang UE–Mercosur

×

Petani Prancis Intensifkan Aksi di Paris, 30 Ton Kentang Dibongkar Tolak Perjanjian Dagang UE–Mercosur

Sebarkan artikel ini
Ratusan petani Prancis menggelar aksi protes besar-besaran di pusat Kota Paris dengan membawa lebih dari 350 traktor. Dalam aksi tersebut, para petani menumpahkan sekitar 30 ton kentang di depan Gedung Majelis Nasional sebagai bentuk penolakan terhadap perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa–Mercosur.

Paris, NusantaraTop.co – Aksi penolakan petani Prancis terhadap rencana perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan Mercosur semakin memanas. Ratusan petani kembali turun ke pusat Kota Paris dengan membawa traktor dan melakukan aksi simbolik dengan membongkar sekitar 30 ton kentang di depan Majelis Nasional Prancis.

Aksi tersebut merupakan bagian dari protes besar-besaran terhadap kesepakatan dagang UE–Mercosur yang dinilai akan menciptakan persaingan tidak adil bagi sektor pertanian Eropa, khususnya Prancis, akibat masuknya produk pertanian murah dari Amerika Selatan.

Sebelumnya, petani Prancis telah mengerahkan sekitar 350 traktor ke pusat kota Paris dan menyatakan akan bermalam di ibu kota untuk menekan pemerintah agar menarik dukungan terhadap perjanjian tersebut. Demonstrasi itu dipimpin oleh National Federation of Agricultural Operators’ Unions (FNSEA), salah satu organisasi petani terbesar di Prancis.

Aksi Simbolik di Depan Majelis Nasional

Aksi pembongkaran kentang dipelopori oleh National Union of Potato Producers of France (UNPT). Melalui platform media sosial X, UNPT menyebut kentang-kentang tersebut dibagikan dan dibongkar di sekitar Jembatan Concorde, tepat di seberang gedung Majelis Nasional.

Menurut UNPT, aksi tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap semakin ketatnya regulasi dan norma yang dinilai membebani petani, sekaligus sebagai simbol terima kasih kepada masyarakat yang mendukung perjuangan petani.

Rekaman video yang beredar menunjukkan para petani menggunakan traktor untuk menurunkan dan menumpahkan kentang di depan gedung parlemen. Media nasional Prancis melaporkan total kentang yang dibongkar mencapai sekitar 30 ton.

FNSEA menegaskan bahwa aksi UNPT merupakan bagian dari mobilisasi nasional petani. Organisasi tersebut menyatakan bahwa sektor pertanian Prancis bersatu dan bertekad mempertahankan pendapatan, standar produksi, serta kedaulatan pertanian nasional.

Ratusan Traktor Masuk Paris

Di wilayah Ile-de-France, termasuk Paris, konvoi traktor mulai memasuki ibu kota sejak dini hari. Dengan izin otoritas setempat, ratusan petani bergerak menuju kawasan strategis seperti Champs-Élysées, Arc de Triomphe, hingga gedung parlemen Prancis.

Dalam aksi yang dikoordinasikan FNSEA, petani secara tegas memperingatkan bahwa perjanjian UE–Mercosur berpotensi menghancurkan sektor pertanian lokal karena membuka pintu impor produk asing dengan harga lebih murah dan standar produksi yang lebih rendah.

“Perjanjian ini akan menciptakan persaingan yang tidak adil. Kami menuntut tindakan konkret dan segera,” tegas FNSEA dalam pernyataannya.

Latar Belakang Penolakan UE–Mercosur

Kesepakatan perdagangan bebas UE–Mercosur semula dijadwalkan ditandatangani pada Desember 2025, namun tertunda akibat gelombang protes petani dan penolakan dari sejumlah negara, termasuk Prancis, Italia, dan Polandia. Meski demikian, mayoritas negara Uni Eropa akhirnya menyetujui perjanjian tersebut pada 9 Januari 2026.

Perjanjian itu rencananya akan ditandatangani di Paraguay pada 17 Januari 2026, dengan memberikan kemudahan tarif bea masuk bagi produk pertanian Mercosur seperti daging sapi, unggas, produk susu, gula, dan etanol.

Petani Eropa memperingatkan bahwa produk-produk murah dari Amerika Selatan yang tidak tunduk pada standar ketat Uni Eropa berisiko membanjiri pasar. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan kebangkrutan ribuan pertanian keluarga di Eropa.

“Pertanian sedang mengalami krisis yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Kami harus membuat suara kami didengar,” ujar Guillaume Lefort, petani tanaman pangan dari wilayah Seine-et-Marne, saat aksi berlangsung di Paris.

Gelombang protes ini diperkirakan belum akan mereda, dengan rencana aksi lanjutan di Parlemen Eropa di Strasbourg pada 20 Januari mendatang.(red)

Sumber : Reuters & En Habler.com

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights