MancanegaraPolitikTimur Tengah

Serangan Udara Besar Israel di Lebanon Tewaskan Ribuan Warga, Krisis Kemanusiaan Memburuk

×

Serangan Udara Besar Israel di Lebanon Tewaskan Ribuan Warga, Krisis Kemanusiaan Memburuk

Sebarkan artikel ini
Kondisi Lebanon yang dituding sebagai serangan militer Israel (ist)

Lebanon, NusantaraTop.co – Militer Israel melancarkan gelombang besar serangan udara ke wilayah Lebanon, menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar serta memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Serangan ini disebut sebagai yang terbesar dalam konflik yang sedang berlangsung, dengan lebih dari 100 target yang diklaim sebagai pusat komando dan fasilitas militer milik Hezbollah dihantam hanya dalam waktu 10 menit.

Target serangan mencakup pinggiran selatan ibu kota Beirut, wilayah selatan Lebanon, serta Lembah Bekaa di bagian timur. Dampaknya sangat luas, dengan laporan rumah sakit kewalahan menangani korban, serta banyak warga diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur.

Pemerintah Israel, melalui kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebelumnya membantah klaim Pakistan yang menyebut bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran juga mencakup konflik di Lebanon.

Korban dan Pengungsi Melonjak

Data terbaru menunjukkan lebih dari 1.500 orang tewas, termasuk sedikitnya 130 anak-anak. Selain itu, lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi—setara dengan sekitar 20 persen populasi Lebanon.

Sebagian besar pengungsi berasal dari komunitas Syiah di selatan Lebanon, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan Beirut—daerah yang selama ini menjadi basis kekuatan Hezbollah.

Desa-desa di dekat perbatasan dilaporkan hancur akibat operasi darat Israel yang bertujuan menciptakan zona penyangga keamanan serta menghancurkan infrastruktur Hezbollah. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa sebagian wilayah bisa tetap diduduki bahkan setelah perang berakhir, sehingga warga sulit kembali ke rumah mereka.

Ketegangan Regional dan Gencatan Senjata

Konflik ini terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya gencatan senjata dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu.

Pemerintah Lebanon menyatakan akan terus berupaya agar negaranya turut masuk dalam proses perdamaian regional. Sementara itu, Hezbollah mengklaim berada di ambang “kemenangan bersejarah” dan meminta warga yang mengungsi untuk menunggu pengumuman resmi gencatan senjata sebelum kembali.

Konflik terbaru ini dipicu oleh serangan roket Hezbollah ke wilayah Israel, sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta respons terhadap serangan Israel yang hampir terjadi setiap hari meskipun sebelumnya telah ada gencatan senjata pada November 2024.

Situasi Dalam Negeri Lebanon Memburuk

Di dalam negeri, Hezbollah menghadapi kritik keras dari sebagian masyarakat Lebanon yang menilai kelompok tersebut telah menyeret negara ke dalam perang yang tidak diinginkan serta lebih mengutamakan kepentingan Iran.

Namun demikian, kelompok itu masih memiliki dukungan kuat di kalangan komunitas Syiah.

Krisis pengungsian turut memperparah kondisi Lebanon yang sudah dilanda krisis ekonomi. Sekolah-sekolah yang dijadikan tempat penampungan kini penuh, sementara banyak warga terpaksa tinggal di tenda darurat, ruang publik, bahkan kendaraan pribadi.

Ketegangan antar-sektarian juga meningkat seiring masuknya pengungsi ke wilayah komunitas lain, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik sosial.

Upaya Politik dan Jalan Buntu

Pemerintah Lebanon sebelumnya telah merencanakan pelucutan senjata Hezbollah pasca gencatan senjata 2024. Namun hingga kini, kelompok tersebut menolak membahas masa depan persenjataannya.

Presiden Joseph Aoun menegaskan bahwa penggunaan kekuatan untuk melucuti Hezbollah bukanlah opsi karena berisiko memicu perpecahan dan kekerasan baru.

Dalam langkah yang dinilai bersejarah, pemerintah Lebanon juga menyatakan kesiapan untuk melakukan negosiasi langsung dengan Israel—meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun hingga saat ini, pihak Israel belum merespons tawaran tersebut.

Situasi di Lebanon kini masih sangat tegang, dengan kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin meluas dan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berada di titik kritis.(red)

Sumber : BBC News

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights