Kongo, NusantaraTop.co – Senin (19/5/2026) Wabah Ebola kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo setelah sedikitnya 88 orang dilaporkan meninggal dunia akibat virus mematikan tersebut.
Pejabat kesehatan kini berupaya keras mengendalikan penyebaran Ebola yang mulai merebak di wilayah timur negara itu sejak bulan lalu. Selain di Kongo, dua kasus juga telah dikonfirmasi di Uganda, dengan satu di antaranya meninggal dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization resmi menetapkan wabah tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
WHO menyebut wabah kali ini berpotensi jauh lebih besar dibanding jumlah kasus yang telah terdeteksi saat ini.
Strain Bundibugyo Jadi Ancaman Besar
Kekhawatiran terbesar para ahli tertuju pada strain Ebola jenis Bundibugyo yang memiliki tingkat kematian mencapai 50 persen.
Berbeda dengan strain Zaire yang lebih umum, virus Bundibugyo hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui secara resmi.
Strain ini juga menjadi salah satu jenis Ebola yang paling jarang diteliti karena wabahnya sangat langka. Wabah kali ini baru menjadi kejadian ketiga sejak pertama kali terdeteksi di Uganda pada 2007–2008 yang menewaskan 37 orang.
Diduga Berasal dari Kelelawar Buah
Ebola merupakan penyakit demam berdarah virus yang pertama kali ditemukan pada 1976 di dekat Sungai Ebola di Kongo.
Para ilmuwan meyakini virus Ebola berasal dari kelelawar buah yang dapat membawa virus tanpa mengalami sakit parah. Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan liar yang terinfeksi seperti kelelawar dan monyet, terutama saat berburu atau mengolah daging satwa liar.
Sebagian besar korban berasal dari kawasan pertambangan emas Mongwalu dan Rwampara di Provinsi Ituri, Kongo.
WHO menyebut aktivitas pertambangan meningkatkan risiko wabah karena mendorong manusia masuk lebih jauh ke kawasan hutan dan lebih sering bersentuhan dengan satwa liar pembawa virus.

Gejala dan Cara Penularan
Gejala awal Ebola muncul mendadak dan mirip flu, seperti demam, sakit kepala, serta kelelahan berat.
Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat mengalami muntah, diare, gangguan fungsi organ tubuh, hingga pendarahan internal. Pada tahap lanjut, hati dan ginjal dapat mengalami kegagalan fungsi.
Virus Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang terinfeksi, bukan melalui udara.
Pakar penyakit menular dari Imperial College London, Anne Cori, menegaskan risiko penyebaran global tetap rendah.
“Ebola bukan virus yang menyebar melalui udara. Penularannya membutuhkan kontak dekat dengan cairan tubuh penderita,” ujarnya.
Keterlambatan Deteksi Perburuk Situasi
Korban pertama yang diduga terinfeksi diketahui mulai mengalami gejala pada 24 April 2026 dan meninggal tiga hari kemudian. Namun, otoritas kesehatan baru mengetahui adanya wabah melalui media sosial pada 5 Mei.
Saat itu, menurut Africa Centres for Disease Control and Prevention, sekitar 50 orang telah meninggal dunia.
Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, menyebut keterlambatan deteksi memberi waktu bagi virus untuk menyebar lebih luas.
Penanganan Masih Mengandalkan Perawatan Intensif
Karena belum tersedia obat khusus untuk strain Bundibugyo, penanganan pasien masih mengandalkan perawatan suportif seperti pemberian cairan, nutrisi, pengendalian infeksi lain, serta pengelolaan nyeri.
Pakar kesehatan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, Daniela Manno, mengatakan pengendalian wabah sangat bergantung pada langkah cepat kesehatan masyarakat.
“Deteksi kasus secara cepat, isolasi pasien, pelacakan kontak, pengendalian infeksi, pemakaman aman, dan edukasi masyarakat menjadi langkah paling penting untuk mengendalikan wabah,” ujarnya.(red)
Sumber : AP
Editor : Pahotan M Hutagalung












