Mancanegara

Warga Paris Berebut AC Murah, Antrean Mengular hingga Polisi Turun Tangan

×

Warga Paris Berebut AC Murah, Antrean Mengular hingga Polisi Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Ratusan warga memadati sebuah supermarket di Paris, Prancis, untuk berebut membeli pendingin ruangan (AC) berharga murah. Antrean panjang, keributan, hingga adu mulut terjadi saat warga berlomba mendapatkan unit AC menjelang gelombang panas berikutnya yang diperkirakan melanda ibu kota Prancis. (Tangkapan layar video media sosial)

Paris, NusantaraTop.co – Ratusan warga menyerbu sejumlah gerai supermarket Lidl di Paris dan sekitarnya pada Kamis (3/7/2026) demi mendapatkan pendingin ruangan (air conditioner/AC) dengan harga murah. Antrean panjang, keributan, hingga campur tangan polisi mewarnai aksi warga yang khawatir menghadapi gelombang panas berikutnya.

Di tengah harga AC yang umumnya dijual lebih dari 1.200 euro (sekitar Rp22 juta) di pasaran, Lidl menawarkan model dasar dengan harga hanya 179 euro (sekitar Rp3,3 juta). Harga tersebut langsung memicu lonjakan pembeli hingga menyebabkan kekacauan di sejumlah gerai.

Polisi dilaporkan dikerahkan ke sedikitnya dua toko untuk mengendalikan situasi setelah ratusan orang memadati lokasi.

Seorang warga bernama Mousa Traore mengaku telah mengantre lebih dari satu jam bersama sekitar 200 calon pembeli lainnya di sebuah gerai Lidl.

Ia mengatakan awalnya hanya tersedia dua unit AC untuk dijual.

“Lalu polisi datang dan kami diberi tahu tidak ada lagi AC yang tersedia. Saya kira polisi yang mengambilnya,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara itu, seorang warga lain bernama Lasana mengaku berhasil mendapatkan salah satu dari dua unit AC yang tersedia setelah mengantre sejak pukul 04.00 pagi atau selama sekitar tujuh jam di kawasan utara Paris.

Gelombang Panas Picu Lonjakan Permintaan

Layanan meteorologi Prancis memperkirakan gelombang panas baru akan kembali melanda akhir pekan ini, setelah suhu ekstrem pada akhir Juni menyebabkan meningkatnya angka kematian, rumah sakit kewalahan menangani pasien, serta sejumlah sekolah terpaksa ditutup.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap pendingin ruangan melonjak drastis.

Namun tidak semua warga berhasil membawa pulang AC.

Fatou, seorang nenek berusia 69 tahun, mengaku telah menunggu selama enam jam. Ia bahkan melaksanakan salat pagi di lokasi antrean, tetapi akhirnya hanya berhasil membeli kipas angin meski menjadi orang ketiga dalam antrean.

Tuding Lidl Lakukan Iklan Menyesatkan

Fatou bersama sejumlah pelanggan lainnya menuding Lidl melakukan iklan yang menyesatkan karena mempromosikan AC murah, padahal stok yang tersedia sangat terbatas.

Mereka menilai perusahaan mengetahui tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendingin ruangan di tengah cuaca yang semakin panas.

Meski sebagian besar antrean berlangsung tertib, beberapa keributan terjadi ketika sejumlah orang mencoba menyerobot barisan.

“Saya tidak akan membuka toko sebelum kalian pergi,” teriak seorang manajer toko kepada kerumunan yang terus mendesak masuk.

Seorang pegawai Lidl mengatakan kepada AFP bahwa gerainya memang hanya menerima dua unit AC dan menolak menjelaskan apakah seluruh unit tersebut sudah terjual.

Kekacauan Terjadi di Sejumlah Kota

Situasi serupa juga terjadi di supermarket Lidl di Sevran, pinggiran utara Paris. Ratusan kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan di pusat kota.

Di Livry-Gargan, kondisi tidak jauh berbeda.

Seorang warga yang hanya memperkenalkan diri sebagai Lolo mengaku akhirnya membatalkan niat membeli AC.

“Saya menyerah. Ini benar-benar gila. Saya meninggalkan mobil beberapa jalan dari toko dan berjalan kaki, tetapi antreannya sudah sangat panjang. Mustahil mendapatkan satu unit,” katanya.

Warga Prancis Mulai Beralih ke AC

Selama bertahun-tahun, penggunaan AC di Prancis relatif rendah karena banyak masyarakat menganggapnya tidak ramah lingkungan. Sebuah survei menunjukkan sekitar 80 persen warga Prancis memiliki pandangan negatif terhadap penggunaan pendingin ruangan.

Namun, sikap tersebut mulai berubah seiring semakin seringnya gelombang panas akibat perubahan iklim.

Operator hipermarket Carrefour bahkan mengungkapkan bahwa pada puncak gelombang panas 22 Juni lalu, mereka berhasil menjual 30.000 unit AC hanya hingga pukul 18.30 waktu setempat, atau sekitar seribu kali lebih banyak dibandingkan hari biasa.

Data Badan Lingkungan Hidup Prancis (Ademe) juga menunjukkan kepemilikan AC di rumah tangga Prancis meningkat dari 18 persen pada 2023 menjadi 24 persen pada 2025.

Para ilmuwan menyebut meningkatnya frekuensi gelombang panas di Eropa berkaitan erat dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia, sehingga kebutuhan terhadap sistem pendingin diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang. (red/AFP)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights