Jakarta, NusantaraTop.co – Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk. Pemerintah mengakui masih banyak kasus TBC yang belum terdeteksi, sehingga penularan penyakit ini terus berlangsung di tengah masyarakat.
Wakil Menteri Kesehatan II, Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan Indonesia mencatat 386 kasus TBC per 100.000 penduduk, jauh melampaui India yang berada di angka 190 kasus per 100.000 penduduk.
“India memang nomor satu dari sisi jumlah, tapi rasionya 190 kasus per 100 ribu penduduk. Indonesia mencapai 386 kasus per 100 ribu penduduk. Kalau penduduk kita sebanyak India, Indonesia sudah nomor satu di dunia,” ujar Benjamin, dikutip dari Kompas.com, Kamis (29/1).
Tingginya rasio tersebut menunjukkan penularan TBC di Indonesia masih aktif dan belum tertangani secara optimal. Menurut Benjamin, persoalan TBC bukan hal baru, namun hingga kini belum diselesaikan secara tuntas.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama penanganan TBC adalah karakter penyakit yang berkembang perlahan dan kerap tidak menimbulkan gejala berat pada tahap awal. Akibatnya, banyak penderita tetap beraktivitas dan tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
“TBC itu beda. Dua bulan masih bisa kerja, main bola, jadi tidak terasa. Datangnya pelan, sembuhnya juga pelan,” kata dokter spesialis paru tersebut.
Program Prioritas Nasional
Dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sektor kesehatan ditetapkan sebagai salah satu prioritas melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Benjamin menyebut dua fokus utama bidang kesehatan nasional adalah penanganan gizi dan pemberantasan TBC. Ia mengaku mendapat mandat langsung dari Presiden dan Menteri Kesehatan untuk memimpin percepatan penanganan TBC secara nasional.
Upaya ini tidak hanya melibatkan tenaga medis, tetapi juga lintas sektor. Sebanyak 31 kementerian dan lembaga dilibatkan, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Perumahan, TNI, dan Polri.
Pendekatan lintas sektor dinilai penting karena faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap penularan TBC. Kondisi rumah dengan ventilasi buruk dan sanitasi rendah menjadi pemicu utama tingginya kasus TBC di berbagai daerah.
“Kuman TBC bisa bertahan sampai enam bulan di rumah lembap tanpa sinar matahari. Tapi kena matahari 15 sampai 30 menit, kumannya mati. Karena itu perbaikan rumah juga bagian dari pengendalian TBC,” jelas Benjamin.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 136 ribu orang meninggal dunia setiap tahun akibat TBC di Indonesia.
“Kenapa nggak pernah selesai? Karena Indonesia itu ranking dua di dunia, sama seperti kusta. Orang malu kalau ketahuan tuberkulosis. Jadi screening-nya jelek,” ungkap Budi.
Untuk menekan angka kematian dan penularan, Kementerian Kesehatan akan melakukan pemantauan dan pemeriksaan secara masif. Pemeriksaan TBC kini digratiskan di puskesmas sebagai bagian dari program skrining nasional.
“Nomor satu, screening akan kita agresifkan. TBC dimasukkan ke Cek Kesehatan Gratis Puskesmas. Jadi ratusan juta orang akan di-screening TBC,” pungkasnya.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












