Tapanuli Utara, NusantaraTop.co – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Tapanuli Utara melontarkan kritik keras terhadap sejumlah praktik yang terjadi di tubuh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Mual Na Tio. Berbagai kebijakan yang dijalankan manajemen dinilai menimbulkan kegelisahan publik dan berpotensi melanggar prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Wakil ketua GMNI Taput, Gary Siagian, menyebut setidaknya ada enam persoalan krusial yang patut mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak berwenang.
Pertama, GMNI mempertanyakan proses pengangkatan Direktur Perumda Mual Na Tio, David Hutabarat, yang dilakukan pada November 2025. Menurut Gary, pengangkatan tersebut menimbulkan tanda tanya terkait kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Kedua, GMNI menyoroti dugaan praktik nepotisme dalam penerimaan pegawai baru. Sejumlah nama diduga direkrut karena hubungan keluarga atau kedekatan tertentu dengan pejabat Perumda, yang dinilai bertentangan dengan prinsip profesionalisme dan good corporate governance di Kabupaten Tapanuli Utara.
Ketiga, perubahan struktur organisasi serta mutasi pegawai disebut dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Kondisi ini dikhawatirkan mengabaikan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Keempat, kebijakan pemotongan gaji serta penurunan status pegawai lama dengan alasan efisiensi dinilai tidak adil dan memicu ketidakpuasan di internal perusahaan.
Kelima, pengangkatan tenaga ahli baru tanpa aturan yang transparan dianggap berpotensi memboroskan anggaran Perumda.
Keenam, GMNI juga menyoroti pengadaan barang dan jasa senilai ratusan juta rupiah yang diduga dilakukan tanpa melalui proses tender resmi, sehingga berpotensi melanggar ketentuan pengadaan pemerintah.
“Atas berbagai persoalan ini, GMNI menuntut adanya audit yang jelas dan transparan, serta perlindungan terhadap hak-hak pekerja,” tegas Gary dalam pernyataannya terhadap NusantaraTop.co, Kamis (5/2/2026).
Ia menegaskan GMNI tidak akan tinggal diam melihat dugaan penyimpangan yang merugikan kepentingan publik.
“Kami tidak akan diam. Pendidikan bukan hanya untuk pintar, tapi pendidikan diberikan kepada kami supaya menjadi manusia yang bijaksana,” ujarnya.
GMNI Taput menekankan bahwa sikap kritis yang mereka sampaikan dilandasi oleh cinta pada kebenaran, tanggung jawab moral, serta kepedulian terhadap rakyat dan masa depan tata kelola BUMD di Tapanuli Utara.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












