Bnei Brak, NusantaraTop.co — Dua tentara wanita Israel berhasil diselamatkan oleh aparat kepolisian setelah dikepung massa kelompok haredi (ultra-Ortodoks) di Kota Bnei Brak, Minggu waktu setempat.
Dalam pernyataan resminya, Israel Police menyebut laporan awal diterima terkait kerumunan sekelompok pelanggar hukum di Jalan Hagai yang mengelilingi dua prajurit wanita tersebut. Keduanya diketahui datang untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sebagai bagian dari tugas mereka di Israel Defense Forces (IDF).
Petugas dari kantor polisi Bnei Brak dan Ramat Gan segera tiba di lokasi untuk mengawal kedua tentara menuju tempat aman. Namun saat aparat datang, massa dilaporkan melakukan perlawanan dan melemparkan tempat sampah ke arah kendaraan patroli.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, massa bahkan membalikkan sebuah mobil saat melakukan pengejaran dan terus mengikuti rombongan hingga polisi berhasil membawa kedua tentara menjauh dari lokasi kericuhan.
Polisi menyatakan tengah melakukan berbagai langkah untuk memulihkan ketertiban umum. Sebanyak 26 orang perusuh dilaporkan telah ditangkap. Media Israel juga menyebutkan bahwa helikopter polisi sempat dikerahkan ke lokasi.
Dalam insiden tersebut, tiga petugas polisi mengalami luka ringan di bagian kepala dan dievakuasi ke Sheba Medical Center di Ramat Gan.
Sebagai langkah pengamanan lanjutan, pada Minggu sore, tentara wanita lain yang bepergian dari Tel Aviv menuju Petah Tikva juga dikawal turun dari bus karena rute perjalanan melewati area dekat Bnei Brak.
Gelombang Kecaman Pejabat Israel
Sejumlah pejabat Israel dari berbagai spektrum politik mengecam keras insiden tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut kerusuhan itu sebagai tindakan serius dan tidak dapat diterima.
“Saya mengutuk keras kerusuhan kekerasan di Bnei Brak terhadap tentara wanita IDF dan petugas polisi Israel. Ini adalah minoritas ekstremis yang tidak mewakili masyarakat haredi secara keseluruhan,” tegas Netanyahu.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan anarki dan tidak akan mentoleransi serangan terhadap personel militer maupun aparat keamanan.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir juga mengecam kelompok yang disebutnya sebagai anarkis dan pelaku kekerasan, serta menegaskan bahwa siapa pun yang menyerang tentara atau polisi akan “membayar harga mahal.”
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett menyebut insiden tersebut sebagai bentuk “anarki” dan menyatakan bahwa garis merah telah dilampaui.
Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir menegaskan bahwa setiap serangan terhadap prajurit oleh warga sipil Israel merupakan pelanggaran serius yang harus ditindak tegas. Ia juga berbicara langsung kepada kedua tentara wanita tersebut dan menyatakan dukungan penuh dari militer.
Komisaris Kepolisian Israel, Danny Levy, menyebut kerusuhan itu sebagai serangan terhadap simbol supremasi hukum dan menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban.
Ketegangan Meningkat
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara aparat keamanan dan sebagian komunitas haredi dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah demonstrasi digelar menentang rancangan undang-undang yang bertujuan meningkatkan integrasi komunitas ultra-Ortodoks ke dalam dinas militer secara bertahap.
Pihak berwenang menegaskan proses hukum terhadap para pelaku kerusuhan akan berjalan sesuai aturan yang berlaku, sembari memastikan perlindungan terhadap personel militer dan aparat keamanan tetap menjadi prioritas utama.(red)
Sumber : The Jerusalem Post
Editor : Pahotan M Hutagalung












