Jakarta, NusantaraTop.co – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memberikan teguran sekaligus motivasi keras kepada jajaran periset di lingkungan lembaga riset negara tersebut.
Di tengah kenaikan anggaran riset yang signifikan, Arif menyoroti masih rendahnya kualitas dan kuantitas proposal penelitian yang diajukan para ilmuwan Indonesia.
Arif mengungkapkan pemerintah telah mengalokasikan tambahan anggaran riset hingga mencapai Rp1,9 triliun. Namun, hasil evaluasi menunjukkan proposal penelitian yang dinilai layak baru mencapai sekitar Rp150 miliar.
Angka tersebut dinilai masih jauh dari target penyerapan anggaran yang diharapkan dapat menembus lebih dari Rp1 triliun.
“Pemerintah telah memberikan tambahan anggaran riset yang cukup besar. Namun, hingga saat ini jumlah proposal penelitian yang masuk masih jauh di bawah target yang diharapkan,” ujar Arif, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, tantangan utama dunia riset Indonesia saat ini bukan lagi soal keterbatasan dana, melainkan kurangnya gagasan penelitian yang kuat, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Arif juga menyoroti pola pikir sebagian peneliti yang dinilai masih memandang riset sebagai kewajiban administratif semata.
“Karya-karya besar lahir ketika pekerjaan bukan lagi sekadar kewajiban administratif. Peneliti yang benar-benar menyatu dengan bidangnya tidak lagi terobsesi pada absensi, target administratif, atau tunjangan kinerja,” tegasnya.
Dalam arahannya, Arif mengajak para peneliti BRIN meneladani integritas para peraih Nobel yang umumnya konsisten mendalami satu bidang ilmu selama bertahun-tahun hingga menghasilkan temuan besar.
Ia berharap para periset BRIN dapat bertransformasi dari sekadar pegawai menjadi pemikir yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Menurutnya, BRIN memiliki peran strategis sebagai think tank pembangunan nasional yang bertugas memberikan solusi berbasis riset terhadap berbagai persoalan negara.
“Ketika pemerintah menghadapi berbagai tantangan, yang dibutuhkan adalah solusi. Di situlah peran BRIN sebagai think tank pembangunan menjadi sangat penting,” jelasnya.
Arif menegaskan, keberhasilan sebuah riset tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi ilmiah di jurnal internasional, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian tersebut mampu diterapkan dalam kebijakan publik dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Pemerintah, kata dia, saat ini membutuhkan rekomendasi berbasis bukti atau evidence-based policy untuk menjawab tantangan global maupun domestik secara cepat dan tepat.
“Riset yang baik bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga mampu memberikan dampak bagi kebijakan, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri,” pungkasnya.
Sumber: Antara












