Inggris, NusantaraTop.co – Seorang remaja asal Inggris dijatuhi hukuman 13 tahun enam bulan penjara setelah terbukti merencanakan serangan teror bersenjata yang didorong ideologi supremasi kulit putih dan neo-Nazi. Rencana aksi tersebut berhasil digagalkan aparat melalui operasi penyamaran yang melibatkan petugas kontra-terorisme.
Alfie Coleman, yang berusia 19 tahun saat ditangkap, diamankan di area parkir sebuah supermarket di Stratford, London Timur, setelah berusaha mengambil senjata api yang diyakininya dibeli dari jaringan penjual senjata. Namun, orang-orang yang berkomunikasi dengannya ternyata merupakan petugas kontra-terorisme yang menyamar.
Menurut fakta persidangan, Coleman mengaku bersalah atas kepemilikan 10 dokumen yang berguna bagi aksi terorisme serta percobaan memiliki senjata api yang telah dinonaktifkan dan amunisi.
Jaksa Nicholas de la Poer KC menjelaskan bahwa Coleman selama beberapa waktu secara aktif mencari senjata melalui platform pesan terenkripsi seperti Wire dan Telegram. Upayanya berujung pada pertemuan yang telah diatur di sebuah parkiran supermarket pada 29 September 2023.
Coleman sebelumnya menyepakati pembelian pistol jenis Makarov, lima magazen, dan 200 butir amunisi. Ia diminta mengambil barang tersebut dari sebuah kendaraan yang diparkir di lokasi.
Rekaman yang dirilis kepolisian memperlihatkan Coleman meletakkan uang tunai sebesar 3.500 pound sterling di dalam kendaraan sebelum mengambil sebuah tas dari bagasi. Tak lama kemudian, saat berjalan sekitar 30 meter, ia langsung disergap petugas bersenjata.

Terpapar Ideologi Ekstrem Sejak Usia 14 Tahun
Persidangan mengungkap Coleman telah menganut ideologi ekstrem kanan sejak berusia 14 tahun, tepatnya pada masa pandemi COVID-19.
Ia diketahui mengagumi pelaku pembunuhan anggota parlemen Inggris Jo Cox dan menyimpan berbagai dokumen propaganda kelompok supremasi kulit putih serta manifesto bermuatan rasisme.
Selain itu, Coleman juga menulis catatan mengenai rencana aksi teror yang diberi judul “Collapse”, yang memuat daftar target, termasuk kediaman resmi pejabat tinggi di London, serta catatan mengenai bahan peledak.
Dalam komunikasi dengan petugas yang menyamar, Coleman bahkan mengungkap keyakinannya bahwa perang ras hanya bisa terjadi melalui “banyak pengorbanan, darah, kematian, dan penderitaan.”

Rencana Serangan Masjid Digagalkan
Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan Coleman sempat berusaha membeli senapan serbu AK-47 dan senjata otomatis Skorpion dari petugas yang menyamar sebagai pedagang senjata asal Serbia.
Ia juga melakukan riset terhadap sebuah masjid di Kota Reims, Prancis, dan telah merencanakan perjalanan ke negara tersebut pada September 2023.
Kepolisian meyakini masjid tersebut menjadi sasaran yang hendak diserang.
Pejabat Counter Terrorism Policing London, Detektif Kepala Helen Flanagan, menyatakan Coleman telah melampaui tahap radikalisasi di dunia maya dan benar-benar berkomitmen melaksanakan aksi teror.
“Dia sepenuhnya siap dan berkomitmen untuk melakukan serangan, bukan sekadar aktif secara daring,” ujarnya.

Keluarga Tidak Mengetahui Proses Radikalisasi
Polisi menyebut keluarga Coleman sama sekali tidak mengetahui perubahan pandangan anak mereka menuju ekstremisme.
Selama ini Coleman dikenal memiliki kehidupan yang relatif normal, tidak memiliki catatan kriminal maupun riwayat kekerasan. Ia pernah bersekolah di Notley High School sebelum melanjutkan pendidikan bisnis di Chelmsford College.
Namun secara diam-diam ia mulai berhubungan dengan kelompok supremasi kulit putih, menyimpan berbagai materi propaganda, dan menyusun rencana serangan.
Seorang petugas kontra-terorisme mengatakan tidak ada pihak yang mengetahui proses radikalisasi Coleman.
“Tidak ada yang melakukan intervensi karena tidak ada yang tahu dia telah mengalami radikalisasi, baik sekolah maupun orang tuanya,” ungkap petugas tersebut di persidangan.
Kasus ini menjadi salah satu contoh bagaimana aparat keamanan berhasil menggagalkan rencana aksi teror melalui operasi intelijen dan penyamaran sebelum serangan sempat dilaksanakan.
Sumber: The Sun












