Babak Baru Hubungan AS-Iran: Dari Serangan Udara hingga “God Bless Iran”
Sebarkan artikel ini
Sebuah pesawat pembom B-2 tiba di Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Missouri, Minggu, 22 Juni 2025. (Foto AP/David Smith)
Washington, NusantaraTop.co – Ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya memasuki babak baru yang tak terduga. Setelah hampir setengah abad diwarnai permusuhan, kini muncul harapan tipis menuju perdamaian, meski masih dibayangi bara konflik.
Pekan ini, dunia dikejutkan oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan, “God bless Iran” sebuah pernyataan yang belum pernah terdengar sebelumnya dari Gedung Putih. Ucapan ini datang setelah AS melancarkan serangan udara ke tiga lokasi pengembangan nuklir Iran, yang disusul oleh serangan balasan terbatas Iran terhadap pangkalan militer AS di Qatar.
Trump merayakan gencatan senjata yang ia mediasi antara Israel dan Iran. “God bless Israel. God bless Iran. God bless the Middle East, America, and the world,” tulisnya di media sosial. Namun, saat pertempuran masih berlanjut di beberapa wilayah, nada Trump berubah drastis, menyebut konflik ini sebagai “dua negara yang sudah terlalu lama bertarung sampai lupa apa yang mereka lakukan.”
Akar Permusuhan: Dari Kudeta CIA hingga Krisis Sandera
Ayatollah Ruhollah Khomeini dikawal ketat saat memasuki mobil untuk meninggalkan bandara di Teheran Iran 1 Februari 1979 setelah tiba kembali di negara itu dengan pesawat carter Air France Boeing 747 Foto APFY ArsipPintu masuk Kedutaan Besar AS di Teheran Iran tempat 63 orang disandera terlihat pada tahun 1980 Grafiti di dinding sebelah kiri berbunyi Kepada minoritas Amerika yang terhormat saudara saudari kulit hitam dan Indian pelajarilah Al Quran dan mulailah revolusi melawan diskriminasi di AS Tuhan dan rakyat Muslim Iran mendukung kalian Hancurkan Reagan Foto AP Arsip
Permusuhan AS-Iran bermula dari Operasi Ajax tahun 1953, ketika CIA bersama Inggris menggulingkan Perdana Menteri Iran yang sah dan mengangkat Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ketidakpuasan rakyat Iran memuncak pada Revolusi 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran. Tahun itu pula, 66 warga AS disandera selama 444 hari oleh mahasiswa Iran momen yang menjadi luka diplomatik mendalam bagi Washington.
Serangan pekan ini bukanlah yang pertama. Pada 18 April 1988, dalam Operasi Praying Mantis, Angkatan Laut AS menghancurkan kapal dan platform Iran sebagai balasan atas penambangan kapal perang AS di Teluk Persia.
Hubungan diam-diam sempat terjalin dalam skandal Iran-Contra, ketika AS secara ilegal menjual senjata ke Iran demi membebaskan sandera di Lebanon dan mendanai kelompok Contra di Nikaragua. Namun pada 2002, Presiden George W. Bush kembali menegaskan garis keras dengan menyebut Iran sebagai bagian dari “Axis of Evil” bersama Irak dan Korea Utara.
Iran dikenal mendukung sejumlah kelompok bersenjata seperti Hezbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman. Kelompok-kelompok ini menjadi sasaran serangan langsung dari AS dan sekutunya, terutama dalam konflik terkini di Timur Tengah.
ARSIP Foto ini yang dirilis oleh situs resmi Kantor Kepresidenan Iran menunjukkan Presiden Hassan Rouhani mendengarkan penjelasan tentang pencapaian nuklir baru dalam sebuah upacara memperingati Hari Nuklir Nasional di Teheran Iran 9 April 2018 Kantor Kepresidenan Iran via AP
Program Nuklir Iran dan Balik Arah Kebijakan AS
Kesepakatan nuklir 2015 di bawah Presiden Obama sempat meredakan ketegangan. Namun Trump menarik AS dari perjanjian itu pada 2018 dan memberlakukan sanksi maksimum terhadap Teheran. Program nuklir Iran pun kembali dipercepat, membuat kawasan kembali genting.
Dalam respons terhadap serangan Iran, Trump memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020. Iran menanggapi dengan menargetkan Trump sebagai sasaran balas dendam. Departemen Kehakiman AS baru-baru ini menuduh seorang agen Iran mencoba menyusun plot pembunuhan terhadap Trump.