MancanegaraNewsPolitikTeknologi & Digital

China Diduga Danai Kampanye Siber Lewat Akun Palsu di Filipina untuk Pengaruhi Opini Publik

×

China Diduga Danai Kampanye Siber Lewat Akun Palsu di Filipina untuk Pengaruhi Opini Publik

Sebarkan artikel ini
Potongan kertas berisi unggahan dari profil Facebook palsu diletakkan di atas bendera China dalam ilustrasi yang diambil pada 3 Oktober 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi

Jakarta, NusantaraTop.co — Sebuah laporan investigasi mengungkap bahwa kedutaan besar China di Filipina diduga membiayai kampanye siber menggunakan akun media sosial palsu untuk memengaruhi opini publik dan melemahkan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Filipina yang pro-Amerika Serikat.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh Reuters, yang memperoleh dokumen internal dari perusahaan pemasaran InfinitUs Marketing Solutions, berbasis di Manila. Dokumen dan wawancara dengan mantan pegawai perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kampanye digital itu dibiayai oleh pihak China dengan tujuan menyebarkan propaganda pro-Beijing dan menyerang aliansi keamanan Filipina–Amerika Serikat.

Pada November 2021, saat kapal-kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke kapal Filipina di Laut Cina Selatan, Duta Besar China saat itu meminta warga Filipina di Facebook untuk membagikan hal-hal yang mereka sukai tentang China. Namun, menurut laporan Reuters, banyak komentar positif yang muncul ternyata berasal dari akun palsu berbayar yang dioperasikan oleh InfinitUs.

“Akun-akun seperti milik ‘Vince Dimaano’ hanyalah satu contoh dari ratusan profil palsu yang dibuat untuk mendukung narasi pro-China,” tulis laporan tersebut.

Mantan Senator Filipina Anna Dominique Nikki Marquez Lim Coseteng berpose untuk foto bersama Presiden APCU Sixto Benedicto Duta Besar Tiongkok saat itu Huang Xilian dan Ketua APCU Raul Lambino setelah menerima penghargaan Award for Promoting Philippines China Understanding dari Asosiasi untuk Pemahaman Filipina Tiongkok APCU di Manila Hotel Manila Filipina 3 Juni 2025 Huang mengakhiri masa jabatannya pada September 2025 REUTERSEloisa Lopez

💻 Operasi Siber Terselubung

InfinitUs diduga menggunakan jaringan akun palsu di Facebook dan X (Twitter) untuk:

  • Memperkuat konten anti-Amerika buatan penulis Filipina yang diduga menerima dana dari Beijing,

  • Menyerang tokoh politik nasionalis Filipina yang menentang kebijakan China,

  • Menyebarkan informasi negatif tentang vaksin buatan Barat,

  • Serta meluncurkan media palsu bertajuk “Ni Hao Manila” yang seolah-olah dikelola oleh warga lokal.

Menurut dokumen perusahaan, InfinitUs memiliki “pasukan digital” (digital army) yang ditugaskan untuk “mengendalikan opini publik” atas isu-isu sensitif, termasuk hubungan luar negeri, Laut Cina Selatan, dan kebijakan vaksin.

Platform Meta, pemilik Facebook, membenarkan bahwa akun-akun yang disebutkan telah melanggar kebijakan mereka dan telah dihapus setelah Reuters melaporkan temuan tersebut.

⚖️ Reaksi dan Bantahan

Perusahaan InfinitUs Marketing Solutions dan pemiliknya, Paul Li, menolak menanggapi pertanyaan media. Sebelumnya, mereka telah membantah terlibat dalam “aktivitas digital ilegal.”

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China menepis tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa Beijing tidak pernah ikut campur dalam urusan dalam negeri negara lain.

“Tuduhan tentang kampanye pengaruh China tidak berdasar dan justru menjadi bumerang bagi pihak yang menyebarkannya,” ujar juru bicara kementerian dalam pernyataannya kepada Reuters.

Di sisi lain, Jonathan Malaya, mantan pejabat senior Dewan Keamanan Nasional Filipina, mengatakan bahwa ledakan penggunaan media sosial di negaranya telah mempercepat operasi pengaruh asing, terutama karena posisi strategis Filipina yang berdekatan dengan Taiwan.

Kasus InfinitUs sebelumnya sempat dibahas dalam sidang Senat Filipina pada April 2024, ketika mantan Ketua Mayoritas Francis Tolentino menuduh perusahaan itu mengelola akun palsu untuk meningkatkan citra Kedutaan Besar China.

Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa lingkup operasi InfinitUs jauh lebih luas, termasuk upaya mempengaruhi opini publik terhadap kebijakan luar negeri Filipina dan kerja sama militernya dengan Amerika Serikat. (Reuters / Redaksi NusantaraTop.co)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights