Ekonomi & BisnisMancanegaraNewsPertanian

Jepang Akan Bagikan “Tiket Beras” untuk Bantu Warga Berpenghasilan Rendah Hadapi Kenaikan Harga Pangan

×

Jepang Akan Bagikan “Tiket Beras” untuk Bantu Warga Berpenghasilan Rendah Hadapi Kenaikan Harga Pangan

Sebarkan artikel ini
Seorang petani memanen padi di sawah di Chikusei, Prefektur Ibaraki, Jepang, 9 Oktober 2025. Harga beras diperkirakan tetap di kisaran ¥4.000 (sekitar Rp432 ribu) untuk 5 kilogram hingga panen musim panas 2026 mendatang. (REUTERS)

Tokyo, NusantaraTop.co – Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan kebijakan pembagian “tiket beras” (rice tickets) sebagai langkah untuk menanggulangi melonjaknya harga bahan pokok, terutama beras, yang kembali naik di penghujung 2025.

Menteri Pertanian Jepang yang baru, Norikazu Suzuki, menyampaikan bahwa pemerintah sudah mulai menyalurkan bantuan melalui dana dukungan prioritas untuk pemerintah daerah di wilayah yang paling terdampak.

“Kami akan mempertimbangkan untuk memberikan bantuan tambahan sebagai bagian dari langkah-langkah menghadapi kenaikan harga, termasuk di daerah-daerah tersebut,” ujar Suzuki, dikutip dari The Japan Times, Rabu (12/11/2025).

Program tiket beras merupakan sistem voucher yang diterbitkan oleh Federasi Pedagang Beras Nasional (Zenbeihan) dan Federasi Koperasi Pertanian Nasional Jepang (Zen-Noh). Kupon ini telah digunakan selama puluhan tahun dengan nilai ¥440 atau sekitar Rp47.500 per lembar, yang bisa ditukarkan untuk membeli beras di toko tertentu.

Kebijakan ini telah dijalankan di beberapa daerah, seperti Distrik Taito di Tokyo, di mana setiap rumah tangga dapat memperoleh hingga 20 voucher beras senilai total sekitar ¥8.800 (Rp950 ribu).

Sementara di Prefektur Osaka, pemerintah daerah memberikan kupon senilai ¥7.000 (sekitar Rp756 ribu) bagi mahasiswa dan pemuda yang mengajukan permohonan.

Menurut Shunsuke Orikasa, peneliti utama di Distribution Economics Institute of Japan, program ini lebih mirip kebijakan sosial ketimbang pertanian.

“Penerima manfaat utamanya adalah individu atau keluarga berpenghasilan rendah yang dibebaskan dari pajak penduduk. Jadi lebih mirip kebijakan kesejahteraan sosial daripada kebijakan beras,” jelas Orikasa.

Kementerian Pertanian Jepang mencatat, harga rata-rata beras nasional untuk 5 kilogram pada pekan mulai 27 Oktober mencapai ¥4.235 (sekitar Rp457 ribu) — menjadi pekan kesembilan berturut-turut harga beras menembus ¥4.000 (Rp432 ribu).

Meski harga sempat turun usai puncaknya pada Mei lalu, tren saat ini menunjukkan kenaikan kembali mendekati rekor tertinggi ¥4.285 (sekitar Rp463 ribu).

Namun, laporan dari asosiasi pedagang besar Jepang pada Senin (10/11) memperkirakan harga beras kemungkinan akan menurun signifikan dalam tiga bulan ke depan, seiring hasil panen yang melimpah di wilayah Tohoku.

“Jika surplus terus diperkuat, pedagang yang menimbun beras dengan harga tinggi mungkin khawatir tidak bisa menjualnya, sehingga harga kemungkinan turun perlahan mulai awal tahun depan,” kata Orikasa.

Meski begitu, penurunan harga eceran diperkirakan terbatas karena distributor sebelumnya telah membeli beras dari petani dengan harga tinggi. Dengan demikian, harga beras eceran kemungkinan masih akan bertahan di kisaran ¥4.000 atau sekitar Rp432 ribu untuk 5 kilogram hingga panen tahun 2026 mendatang.(red)

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights