Yorkshire Utara, NusantaraTop.co – Kota pasar kecil Bentham di North Yorkshire, Inggris, yang selama ini dikenal tenang dan asri, kini diliputi ketakutan dan kemarahan. Warga menuding daerah mereka tercemar PFAS atau forever chemicals dalam kadar tertinggi di Inggris, memicu kecemasan kesehatan, konflik sosial, hingga rumah-rumah yang tak lagi laku dijual.
Bentham, yang dihuni sekitar 3.000 penduduk, menjadi lokasi pabrik Angus International Safety Group (Angus Fire), produsen busa pemadam kebakaran yang telah beroperasi sejak 1970-an dan mempekerjakan sekitar 100 warga lokal. Namun aktivitas tersebut kini dikaitkan dengan dugaan akumulasi PFAS—senyawa kimia sintetis yang sulit terurai dan dikaitkan dengan kanker, gangguan kesuburan, serta masalah perkembangan anak.
Warga mengeluhkan adanya “awan kimia” yang disebut kerap keluar dari pabrik. Dalam rapat dewan kota tahun 2024, seorang warga mengatakan partikel padat terlihat jatuh ke wilayah permukiman, bahkan bertepatan dengan jam bermain anak-anak. Emisi malam hari juga dilaporkan berbau menyengat hingga memaksa warga menutup jendela.
Temuan kadar tinggi PFAS juga dilaporkan mencemari saluran air dan tanah kebun komunitas, tempat warga menanam sayuran. Sepasang warga mengaku pernah melihat busa dari pabrik terbawa angin ke ladang domba di sekitar kota.
“Lingkungannya terasa mati. Tidak ada ikan di sungai, burung juga makin sedikit,” ujar mereka.

Data Kanker dan Investigasi
Data Kementerian Kesehatan dan Layanan Sosial Inggris menunjukkan angka prevalensi kanker di Bentham signifikan di atas rata-rata nasional. Ahli hidrologi Universitas Liverpool John Moores, Dr Patrick Byrne, menyebut sampel air tanah di lokasi tersebut sebagai yang tertinggi kandungan PFAS-nya yang pernah ia temui di Inggris.
“PFAS mungkin merupakan ancaman kimia terbesar bagi umat manusia di abad ke-21,” ujarnya.
Dokumen pengujian yang diperoleh media lingkungan The Ends Report menunjukkan pada 2008, kadar PFAS dan PFOA di air tanah lokasi pabrik tercatat lebih dari 55.000 kali ambang batas standar pemerintah. Kedua zat tersebut kini telah dilarang.
Badan Lingkungan Inggris (Environment Agency/EA) mengonfirmasi pabrik Angus Fire berulang kali melanggar izin lingkungan, termasuk satu izin yang dilanggar hingga 20 kali dalam 10 tahun. EA kini menetapkan Bentham sebagai salah satu lokasi berisiko tinggi PFAS di Inggris.

Rumah Kosong dan Air Minum Botol
Sejumlah rumah di sekitar kolam limbah pabrik kini kosong setelah dibeli perusahaan. Seorang warga mengaku berhenti minum air keran karena khawatir tercemar dan beralih sepenuhnya ke air kemasan.
“Saya khawatir rumah ini tidak bisa dijual di masa depan,” ujarnya.
Kelompok warga Cleaner Bentham dibentuk untuk melakukan pengujian independen dan pendampingan hukum. Beberapa pemilik rumah bahkan telah menggugat Angus Fire.
Namun, isu ini juga memecah masyarakat. Sebagian warga membela perusahaan karena kontribusi ekonomi dan lapangan kerja lintas generasi.
Respons Perusahaan dan Pemerintah
Manajemen Angus Fire menyatakan telah menghentikan produksi dan pengujian busa berbahan PFAS sejak 2022 serta tengah menunggu persetujuan izin untuk fasilitas pengolahan air hujan terkontaminasi.
Pemerintah daerah North Yorkshire dan EA menyatakan sejauh ini tidak ditemukan bukti pencemaran air minum, sementara Yorkshire Water menegaskan pasokan air Bentham berasal dari sumber lain dan berada pada tingkat risiko terendah.
Meski demikian, investigasi masih berlangsung. Bentham termasuk dalam lebih dari 10.000 lokasi berisiko PFAS di Inggris, dengan estimasi biaya dekontaminasi nasional mencapai £428 juta (≈Rp9,83 triliun) per tahun selama 20 tahun.
Bagi warga Bentham, ketidakpastian ini meninggalkan satu hal pasti: rasa cemas akan kesehatan, lingkungan, dan masa depan kota kecil mereka.(red/the sun)
Editor : Pahotan M Hutagalung












