Gaza City, NusantaraTop.co – Militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa Muhammad Nasr Ali Quneita, anggota militer intelijen Hamas, tewas dalam serangan udara terarah di Gaza City. Quneita diketahui sebagai teroris yang menyandera warga Inggris-Israel, Emily Damari, dalam serangan brutal Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu.
Quneita merupakan anggota dari Batalyon Al-Furqan, sayap militer Hamas. Ia dilaporkan mengurung Emily di rumahnya sendiri, tak lama setelah menyerbu pemukiman Kfar Aza dalam peristiwa yang memicu pecahnya kembali perang di Gaza.

Mengenal Emily Damari: Dari London, Jadi Simbol Keteguhan
Emily Damari, wanita muda keturunan Inggris yang tumbuh di London Tenggara, pindah ke Israel di usia 20-an. Ia dikenal sebagai penggemar berat Tottenham Hotspur.
Saat diculik, Emily ditembak di tangan dan mengalami luka serpihan di kaki. Ia termasuk dalam kelompok pertama dari 33 sandera yang dibebaskan oleh Hamas pada November 2023, setelah negosiasi yang dimediasi Qatar.
Rekaman pembebasannya sempat viral: Emily keluar dari van dengan tubuh lemah, dikelilingi milisi bersenjata lengkap, bersama dua wanita Israel lainnya, Romi Gonen (24) dan Doron Steinbrecher (31).
Kisah Pilu Selama Disandera: Kelaparan, Kotoran, dan Trauma
Setelah dibebaskan, Emily menceritakan kondisi mengenaskan selama masa penyanderaan:
- Hanya diberi setengah roti pita per hari,
- Menggunakan ember sebagai toilet, tanpa air bersih,
- Tidak diizinkan mencuci atau mengganti pakaian, menyebabkan infeksi kutu dan penyebaran penyakit di antara para sandera.
Emily mengungkap rasa syukurnya, sambil tersenyum dan menyampaikan pesan penuh cinta:
“Terima kasih Tuhan, terima kasih keluarga dan sahabat. Aku kembali hidup. Aku orang paling bahagia di dunia saat ini,” tutur Emily
Ibunya, Mandy, turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berjuang membebaskan Emily “Terima kasih untuk dukungan dari seluruh dunia. Kalian luar biasa,” ucapnya.
Upaya Perdamaian Masih Diupayakan
Beberapa hari terakhir, Hamas menyatakan kesediaannya untuk membebaskan 10 sandera tambahan dalam upaya menuju gencatan senjata di Gaza, yang masih dilanda bom dan blokade pangan. Qatar memfasilitasi perundingan tidak langsung antara kedua pihak.
Namun, masih banyak hal krusial yang mengganjal yakni Israel menuntut pelucutan total Hamas,
dan Hamas meminta jaminan perang tak berlanjut setelah gencatan senjata.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan menyatakan keyakinannya bahwa gencatan senjata 60 hari bisa tercapai dalam waktu dekat.(red)
Sumber : The Sun












