MancanegaraNewsPolitikRagam

Kontroversi Jerman: Merz Buka Peluang Kirim Pasukan Perdamaian ke Ukraina, Publik Terbelah

×

Kontroversi Jerman: Merz Buka Peluang Kirim Pasukan Perdamaian ke Ukraina, Publik Terbelah

Sebarkan artikel ini
Seorang prajurit dari Brigade Artileri Terpisah ke-44 Angkatan Bersenjata Ukraina menembakkan howitzer swagerak 2S22 Bohdana ke arah pasukan Rusia di dekat garis depan, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina, di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, 20 Agustus 2025. REUTERS

Berlin, NusantaraTop.co – 21 Agustus 2026 – Rencana Eropa membentuk pasukan penjaga perdamaian untuk melindungi Ukraina sebagai bagian dari kemungkinan kesepakatan damai dengan Rusia memicu polemik sengit di Jerman. Negeri itu masih dibayangi sejarah kelam Nazi dan trauma kegagalan misi militer sebelumnya.

Kanselir Friedrich Merz memberi sinyal terbuka atas kemungkinan partisipasi Jerman dalam misi penjaga perdamaian, namun menekankan bahwa keputusan tersebut harus diambil bersama mitra Eropa dan mendapat restu Bundestag.

“Keputusan pengiriman pasukan tidak bisa diambil sepihak. Harus ada koordinasi dengan mitra Eropa dan persetujuan parlemen,” ujar Merz.

Namun, ide itu langsung memicu badai kritik. Rusia dengan keras menentang keterlibatan pasukan NATO, sementara di dalam negeri, oposisi politik dan publik terbagi.

AfD: Tuduh Merz War-Mongering

Ketua partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD), Alice Weidel, menuduh Merz dan koalisinya mengobarkan perang.

“Ini ide berbahaya dan tidak bertanggung jawab,” serangnya.

Bahkan Menteri Luar Negeri Merz, Johann Wadephul, ikut memperingatkan bahwa pengiriman pasukan ke Ukraina akan “membebani Jerman secara berlebihan”.

Trauma Sejarah dan Ekonomi yang Lesu

Perdebatan publik juga dipengaruhi sejarah Jerman. Kenangan rezim Nazi serta kegagalan misi di Afghanistan dan Mali membuat masyarakat enggan melihat tentaranya kembali dikerahkan. Ditambah lagi, kondisi ekonomi yang goyah membuat banyak warga menolak pengeluaran miliaran euro untuk bantuan militer Ukraina.

“Ini isu yang sangat kontroversial di Jerman. Pemerintah akan sangat hati-hati melangkah,” kata Marcel Dirsus, peneliti dari Institute for Security Policy Kiel University.

Survei: Publik Terbelah

Menurut survei Forsa untuk RTL/ntv, 49% warga mendukung Jerman ikut mengirim pasukan, sementara 45% menolak. Angka itu jauh lebih rendah dibanding dukungan publik di Inggris dan Prancis. Skeptisisme paling kuat terlihat di wilayah timur Jerman, yang akan menggelar pemilu daerah tahun depan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen berbicara dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin Eropa di tengah negosiasi untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina di Gedung Putih Washington DC AS 18 Agustus 2025 REUTERS

Tantangan Politik bagi Merz

Merz yang baru terpilih tahun ini berjanji membangun militer Jerman menjadi yang terkuat di Eropa dengan ratusan miliar euro pinjaman baru. Namun, popularitasnya kini merosot, sementara AfD memimpin survei nasional dengan kampanye anti-perang dan pro-Rusia.

Partainya sendiri terbelah: sebagian mendukung misi penjaga perdamaian bila ada gencatan senjata permanen, sebagian lagi menilai Bundeswehr belum siap dikerahkan. Bahkan mitra koalisinya, Partai Sosial Demokrat (SPD), menolak keras rencana itu dengan alasan sejarah dan risiko konfrontasi nuklir.

Eropa Mendorong, Jerman Ragu

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer vokal mendukung pasukan perdamaian pascaperang, tetapi di Berlin, suara skeptis jauh lebih dominan.

“Yang lebih penting adalah membangun arsitektur keamanan Eropa yang kuat. Jika tidak, Jerman dan Bundeswehr akan kewalahan,” kata Sven Schulze, Ketua CDU di Sachsen-Anhalt.

Merz sendiri memilih berhati-hati.

“Masih terlalu dini untuk memberi jawaban pasti,” ujarnya, Senin lalu.

Dengan publik yang terbelah, oposisi yang semakin kuat, dan risiko politik yang besar, kanselir Merz kini harus menavigasi dilema paling sensitif: menjaga solidaritas Eropa tanpa menyeret Jerman ke dalam konflik baru yang bisa membangkitkan trauma lama.(red)

Sumber : Reuters

Editor : Pahotan MH

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights