Bogo, Kamerun, NusantaraTop.co – Seorang bayi berusia sembilan bulan bernama Mohamat meninggal akibat malaria setelah demam tinggi selama tiga hari. Ia terlambat mendapat pertolongan di pusat kesehatan di Kamerun utara.
Kematian Mohamat menjadi bagian dari lonjakan kasus malaria mematikan tahun ini. Pejabat kesehatan setempat menilai meningkatnya angka kematian terkait pemotongan bantuan asing oleh Amerika Serikat (AS), yang selama hampir satu dekade mendukung program malaria di kawasan tersebut.
Sebelum adanya pemangkasan bantuan, tenaga kesehatan komunitas yang dibiayai AS dapat menjangkau desa-desa terpencil dan melakukan diagnosis dini. Namun kini, lebih dari 2.000 petugas kesehatan berhenti beroperasi, dan obat penting seperti injectable artesunate untuk malaria parah juga langka.
Ayah Mohamat, Alhadji Madou Goni, mengaku hancur atas kehilangan putranya. “Saya merasa sangat sedih. Saya harap tidak ada lagi yang menderita karena malaria,” ujarnya.
Program Malaria AS Terhenti
Pemotongan bantuan terjadi sejak Presiden AS Donald Trump menangguhkan seluruh dana luar negeri pada Januari lalu, termasuk President’s Malaria Initiative (PMI). Program yang diluncurkan sejak 2005 oleh Presiden George W. Bush itu sebelumnya berhasil menyelamatkan jutaan nyawa.
Di Kamerun, PMI mendukung hampir separuh tenaga kesehatan komunitas di wilayah utara. Mereka rutin membagikan kelambu, melakukan deteksi dini, hingga memberikan rujukan medis. Namun sejak bantuan dihentikan, 2.105 dari 2.354 tenaga kesehatan berhenti bekerja.

Angka Kematian Naik Lagi
Menurut Dr. Jean-Pierre Kidwang, koordinator teknis malaria di wilayah Utara, jumlah kematian akibat malaria sempat turun dari 1.519 kasus pada 2020 menjadi 653 kasus di 2024. Namun, tren tahun 2025 menunjukkan kenaikan kembali hingga mencapai 15% pada paruh pertama tahun ini.
“Kami bisa saja kembali ke titik di mana semua capaian melawan malaria hilang,” kata Kidwang.
Krisis Afrika Meluas
Pemotongan bantuan AS juga berdampak di beberapa negara Afrika lain seperti Liberia, di mana sebagian tenaga kesehatan kini bekerja tanpa gaji. Di Kamerun, stok obat artesunate juga sangat terbatas dan hanya cukup untuk kebutuhan tiga bulan.
Organisasi kesehatan lokal khawatir kondisi ini memperburuk krisis kesehatan, apalagi wilayah utara Kamerun juga menghadapi kemiskinan, kekeringan, dan ancaman konflik Boko Haram.
“Situasinya sangat berat. Tanpa dukungan, banyak pasien yang tidak tertolong,” kata Olivia Ngou, Direktur Eksekutif Impact Sante Afrique.(red/reuters)












