Ulanbator, Nusantaratop.co – Master Nasional Shafira Devi Herfesa yang merupakan atlet catur putri Indonesia jadi pemenang pada even Kejuaraan Catur Zona 3.3 Asia 2025 di Ulan Bator, Mongolia, Kamis (1/5/2025).
Shafira termasuk salahsatu dari enam (6) pecatur Indonesia yang diutus, 4 pecatur kategori putra yakni, IM Yoseph Theolifus Taher (2464), GM Novendra Priasmoro (2437), FM Satria Duta Cahaya (2416), dan IM Nayaka Budhidharma (2390). Sedangkan kategori Putri yakni, WIM Laysa Latifah (2262) dan Shafira Devi Herfesa (1983).
Shafira yang baru berusia 17 tahun tampil luar biasa itu menjadi pecatur putri Indonesia kedua dan sekaligus pecatur Indonesia keempat yang pernah lolos ke ajang catur paling bergengsi di dunia tersebut.
Terakhir kali Indonesia meloloskan pecaturnya ke Piala Dunia Catur adalah pada 2019, saat Grand Master (GM) Susanto Megaranto dan Woman Grand Master (WGM) Medina Warda Aulia berhasil lolos secara bersamaan. Sebelumnya, GM Utut Adianto juga pernah lolos ke ajang tersebut.
Pada even tersebut, Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) menilai bahwa Shafira pecatur asal Sleman, DI Yogyakarta itu berhak atas tiket ke Piala Dunia Catur 2025.
”Keberhasilan ini sangat mengejutkan dan sekaligus menggembirakan. Shafira yang memiliki peluang sangat tipis berhasil menjadi juara dan merebut tiket ke Piala Dunia Catur 2025. Dunia catur putri Indonesia memiliki peluang besar untuk lebih bersinar di tingkat dunia,” kata Henry Hendratno, Manajer Tim Catur Indonesia sekaligus Sekretaris PB Percasi.

Baca Juga : 6 Pecatur Indonesia Siap Harumkan Nama di Asian Zone 3.3 Chess Championship 2025
Shafira yang memiliki elo rating hanya 1983 bagaikan lolos dari lubang jarum karena sepanjang turnamen dia tidak pernah menempati ranking teratas, bahkan sering berada di luar tiga besar. Padahal, hanya satu tiket ke Piala Dunia yang diperebutkan dalam ajang ini.
Pada babak kesembilan, Shafira yang baru mengumpulkan enam poin harus menghadapi pemuncak klasemen dari Mongolia, WGM Turmunkh Munkhzul (2301), yang memiliki 6,5 poin. Selain itu, terdapat juga pecatur Mongolia, Woman Candidate Master (WCM) Khishigbaatar Bayasgalan di posisi kedua, yang juga memiliki 6,5 poin.
Untuk merebut tiket ke Piala Dunia, Shafira tidak hanya harus mengalahkan Munkhzul, tetapi juga berharap Bayasgalan kalah pada babak kesembilan. Namun, semua hambatan itu tidak membuat pecatur yang tahun ini berusia 17 tahun itu berkecil hati.
Bermain dengan buah catur hitam, Shafira memainkan pembukaan Ruy Lopez, dengan variasi Morphy Defense Exchange. Shafira enggan bermain bertahan dan terus menutup ruang serang Munkhzul.
Permainan cerdik Shafira membuatnya unggul satu perwira gajah dan terus mengeksplorasi keunggulan itu untuk menekan Munkhzul. Pada langkah ke-44, Shafira memaksa Munkhzul untuk menyerah.
Meskipun menang dan meraih tujuh poin, Shafira tidak otomatis menjadi pemuncak klasemen. Dia harus menunggu laga dua pecatur Mongolia lainnya yang menempati posisi kedua dan ketiga.
Beruntung bagi Shafira, Bayasgalan di posisi kedua kalah dari pecatur Filipina, WGM Janelle Mae Frayna, sehingga poinnya tidak bertambah. Namun, pecatur di posisi ketiga, Woman Fide Master (WFM) Enkh Amgalan Enkhrii (2142), yang memiliki enam poin, mampu menang atas pecatur Vietnam, Hoang Tu Linh Luong (1939), sehingga menambah raihannya menjadi tujuh poin, sama seperti Shafira.
Alhasil, juara kategori putri ajang tersebut harus ditentukan berdasarkan nilai tie break. Sampai dengan babak ke-8 Shafira kalah 40 poin dalam perhitungan nilai tie break dari Enkhrii dengan 2206 berbanding 2246.
Namun, setelah babak kesembilan, nilai tie break Shafira mengungguli Enkhrii dengan 2218 berbanding 2208 atau terpaut 10 poin. Nilai tie break yang lebih tinggi itu didapat karena Shafira menang atas Munkhzul yang memiliki elo rating jauh lebih tinggi. Sementara Enkhrii menang atas Hoang yang elo rating-nya lebih rendah.
Selain berhak atas tiket ke Piala Dunia Catur, Shafira juga mendapatkan hadiah uang 1.500 dollar AS atau sekitar Rp 24,75 juta. Shafira juga mendapat tambahan elo rating paling besar dalam ajang tersebut, yaitu 172 poin.
Tambahan poin itu didapat karena Shafira menang enam kali, remis dua kali, dan sekali kalah dalam sembilan babak. Tujuh dari sembilan lawannya merupakan pecatur dengan elo rating yang lebih tinggi dibandingkan dengan Shafira.
Pecatur putri cemerlang
Shafira menjadi pecatur putri yang paling pesat kemajuannya dalam setahun terakhir. Sebelumnya, Shafira menjuarai PON Aceh-Sumut 2024 pada nomor catur standar perseorangan.
Namanya tidak pernah diperhitungkan dalam dunia catur nasional sebelum PON karena kalah bersaing dengan WGM Medina Warda Aulia, WGM Irene Kharisma Sukandar, WIM Ummi Fisabilillah, WIM Chelsie Monica Sihite, dan WIM Laysa Latifah.
Namun, dalam ajang PON, Shafira menahan Chelsie M Sihite, lalu mengalahkan Irene dan Ummi. Atas keberhasilan itu, Persatuan Catur Seluruh Indonesia memberikan lebih banyak kesempatan bagi Shafira untuk tampil di ajang internasional.
Sebelumnya, dalam usia 11 tahun, bakat Shafira mulai terlihat pada ajang Perang Bintang Muda U-14 di Sekolah Catur Utut Adianto, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (11/7/2019). Kompas mencatat, saat itu, Shafira menahan remis Candidate Master (CM) Aditya Bagus Arfan yang berusia 13 tahun.
Gagal tembus tiga besar
Sementara itu, lima pecatur Indonesia lainnya gagal menembus posisi tiga besar di kategori masing-masing. IM Yoseph Theolifus Taher yang sampai babak kedelapan masih berpeluang merebut tiket harus puas menempati urutan ke-12 dengan 5,5 poin. Kemudian, IM Nayaka Budhidharma yang sempat tampil bagus di lima babak awal harus menghentikan langkah di urutan ke-16 dengan 5 poin.
GM Novendra Priasmoro tercecer di urutan ke-19 dengan 5 poin, diikuti FM Satria Duta Cahaya di urutan ke-22 dengan 5 poin. Sementara itu, WIM Laysa Latifah yang bertanding di kategori putri bersama Shafira menempati urutan ketujuh dengan 6,5 poin.
Pada kategori open, GM Tin Jingyao menjadi juara dan sekaligus merebut satu tiket ke Piala Dunia Catur 2025 yang akan berlangsung di India karena membukukan nilai tie break tertinggi 2394. Posisi runner-up dan berhak atas tiket kedua ke Piala Dunia Catur diraih wakil Mongolia, IM Uurtsaikh Agibileg yang unggul nilai tie break atas rekan senegaranya IM Sugar Gan Erdene di urutan ketiga, dengan 2366 berbanding 2277. Ketiganya meraih tujuh poin. (red)
Sumber : kompas.com
Editor : Pahotan MH












