Jakarta, NusantaraTop.co – Prospek harga emas dunia pada paruh kedua 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan. Ahli strategi komoditas Morgan Stanley menilai harga emas akan sulit mencapai target bullish US$5.200 per ons atau sekitar Rp93,1 juta per ons tanpa dukungan kuat dari arus masuk dana ke Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas.
Amy Gower dan Martijn Rats dalam catatan riset terbaru menyebutkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap menjadi penopang pasar. Namun, permintaan dari ETF dinilai lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.
“Bagian yang hilang adalah permintaan ETF, yang kemungkinan akan tetap sensitif terhadap jalur Federal Reserve (The Fed), imbal hasil riil, dan pergerakan dolar AS,” tulis mereka, dikutip dari Kitco, Rabu (24/6/2026).
Morgan Stanley tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang logam mulia tersebut. Meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak diperkirakan dapat membantu menekan inflasi sehingga menciptakan ruang bagi penguatan harga emas.
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa sikap hawkish The Fed telah meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Bahkan, pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga, yang berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Data Morgan Stanley menunjukkan ekspektasi suku bunga tinggi telah mendorong kenaikan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di atas level Februari. Kondisi tersebut memicu arus keluar dana dari ETF emas dan turut berkontribusi terhadap pelemahan harga logam mulia.
Pada Mei 2026, Amy Gower kembali menegaskan prediksi bahwa harga emas berpotensi mencapai US$5.200 per ons atau sekitar Rp93,1 juta per ons pada akhir tahun. Namun, ia mengakui emas menghadapi tekanan meski ketidakpastian geopolitik meningkat akibat konflik yang berlangsung di Iran.
“Dengan konflik yang memicu guncangan pasokan energi dan mengurangi harapan penurunan suku bunga AS, tidak mengherankan jika emas kesulitan berfungsi sebagai aset aman kali ini,” ujarnya.
Menurut Gower, sensitivitas harga emas terhadap kebijakan moneter kini menjadi faktor dominan yang menutupi perannya sebagai aset safe haven. Akibatnya, kemampuan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik maupun inflasi menjadi berkurang.
Ia juga memperingatkan bahwa semakin lama konflik Iran berlangsung, semakin besar risiko tekanan terhadap harga emas.
“Harga emas mungkin akan turun jika pasar mulai mengantisipasi penahanan suku bunga yang berkepanjangan atau bahkan kenaikan suku bunga,” katanya.
Deutsche Bank Turunkan Proyeksi
Sementara itu, Deutsche Bank turut memangkas proyeksi harga emas untuk paruh kedua 2026. Analis riset Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai menurunnya minat investor akibat ketidakpastian kebijakan moneter The Fed menjadi faktor utama penyesuaian tersebut.
Deutsche Bank kini memperkirakan harga emas rata-rata berada di level US$4.300 per ons atau sekitar Rp77 juta per ons pada kuartal III/2026. Angka tersebut turun lebih dari 22 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Untuk kuartal IV/2026, harga emas diperkirakan naik menjadi US$4.800 per ons atau sekitar Rp85,9 juta per ons, meskipun masih sekitar 17 persen lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Hsueh mengatakan target tersebut didasarkan pada asumsi bahwa The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga 2026. Namun, jika bank sentral AS justru menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali, harga emas berpotensi turun hingga US$3.800 per ons atau sekitar Rp68 juta per ons.
Ia menambahkan, arus keluar yang berkelanjutan dari ETF emas menunjukkan dukungan investor terhadap logam mulia masih lemah. Selain itu, diskon harga emas di pasar China dibandingkan harga Comex mengindikasikan bahwa permintaan dari negara tersebut belum cukup kuat untuk menopang pasar global.
Meski demikian, Hsueh menilai masih ada satu faktor yang tetap menjadi penopang utama harga emas.
“Satu pilar yang tetap kuat adalah permintaan bank sentral, dan kami memperkirakan hal ini akan terus berlanjut dalam beberapa waktu mendatang,” ujarnya.












