MancanegaraNewsPendidikanRagamTeknologi & Digital

NASA Rilis Video Evolusi Sisa Ledakan Supernova Kepler Selama 25 Tahun

×

NASA Rilis Video Evolusi Sisa Ledakan Supernova Kepler Selama 25 Tahun

Sebarkan artikel ini
Evolusi Sisa Ledakan Supernova Luar Angkasa (Tangkapan Layar Video NASA)

WASHINGTON, NusantaraTop.co — NASA merilis video terbaru yang memperlihatkan evolusi Sisa Supernova Kepler menggunakan data Observatorium Sinar-X Chandra yang dikumpulkan selama lebih dari dua setengah dekade. Video ini menjadi rekaman terpanjang yang pernah dirilis Chandra, menampilkan perubahan sisa ledakan bintang dari tahun 2000 hingga 2025.

Supernova Kepler pertama kali diamati pada 1604 dan dinamai sesuai astronom Jerman, Johannes Kepler. Para ilmuwan kini mengetahui bahwa ledakan tersebut berasal dari bintang katai putih yang meledak setelah melampaui massa kritisnya, akibat menarik materi dari bintang pendamping atau bergabung dengan katai putih lain. Ledakan jenis ini dikenal sebagai Supernova Tipe Ia, yang sangat penting bagi ilmuwan untuk mengukur laju ekspansi alam semesta.

Sisa supernova, yakni puing-puing yang tertinggal setelah ledakan bintang, memancarkan cahaya kuat dalam spektrum sinar-X karena materialnya dipanaskan hingga jutaan derajat. Sisa Supernova Kepler berada di galaksi Bima Sakti, sekitar 17.000 tahun cahaya dari Bumi, sehingga memungkinkan Chandra merekam citra detail serta perubahan struktur puing dari waktu ke waktu.

Video terbaru ini menggabungkan data sinar-X dari tahun 2000, 2004, 2006, 2014, dan 2025, membentuk video timelapse selama 25 tahun. Rekaman tersebut menunjukkan bagaimana sisa ledakan terus mengembang seperti balon yang perlahan mengembang.

“Alur kisah Kepler baru mulai terungkap sekarang,” ujar Jessye Gassel, mahasiswa pascasarjana George Mason University yang memimpin penelitian ini. Ia mempresentasikan video dan hasil riset tersebut dalam pertemuan ke-247 American Astronomical Society di Phoenix.

Dari analisis video, para peneliti menemukan bahwa bagian tercepat dari sisa supernova bergerak dengan kecepatan sekitar 13,8 juta mil per jam atau sekitar 2 persen kecepatan cahaya, sementara bagian paling lambat bergerak sekitar 4 juta mil per jam atau 0,5 persen kecepatan cahaya. Perbedaan kecepatan ini disebabkan oleh kepadatan gas yang berbeda di lingkungan sekitar sisa ledakan.

“Ledakan supernova dan unsur-unsur yang dilemparkannya ke angkasa adalah sumber kehidupan bagi pembentukan bintang dan planet baru,” kata Brian Williams dari NASA Goddard Space Flight Center. Menurutnya, memahami perilaku sisa ledakan sangat penting untuk mengetahui sejarah kosmik alam semesta.

Selain itu, tim peneliti juga mempelajari ketebalan tepi gelombang kejut ledakan, yaitu bagian terdepan yang pertama kali bertabrakan dengan materi di luar bintang. Dari pengukuran tersebut, ilmuwan memperoleh informasi lebih lanjut mengenai karakter ledakan dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Program Observatorium Chandra dikelola oleh NASA Marshall Space Flight Center di Alabama, sementara operasi sains dijalankan oleh Smithsonian Astrophysical Observatory melalui Chandra X-ray Center di Massachusetts.(red)

Sumber : NASA

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights