Tokyo, NusantaraTop.co – Partai sayap kanan Jepang Sanseito resmi membentuk divisi internasional untuk memperluas pengaruh politiknya ke luar negeri dengan menggandeng sekutu mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta kelompok kanan di Eropa.
Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memperkuat posisi Sanseito di dalam negeri dengan mengandalkan pengakuan global dari jaringan konservatif internasional.
Dari Teori Konspirasi hingga Parlemen Jepang
Sanseito muncul ke permukaan saat pandemi COVID-19 dengan menyebarkan teori konspirasi tentang vaksinasi dan elite global. Dalam pemilu Juli lalu, partai ini berhasil mencuri perhatian publik lewat kampanye keras soal imigrasi, hingga menambah perolehan kursi di majelis tinggi Jepang dari 1 menjadi 15 kursi.
Survei NHK pada 8 September menunjukkan Sanseito kini menjadi partai oposisi paling populer, bahkan melampaui Partai Demokrat Konstitusional.
Membangun Jaringan Global
Partai ini pada September mendirikan divisi internasional di Tokyo yang dipimpin Sen Yamanaka, mantan bankir berpendidikan AS. Sanseito aktif menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh konservatif Barat, termasuk Steve Bannon, mantan penasihat Trump, dan komentator sayap kanan Tucker Carlson.
Sanseito juga sempat mengundang Charlie Kirk, pendiri Turning Point USA, untuk berbicara di Tokyo. Kirk, yang dikenal dekat dengan Trump, tewas ditembak tak lama setelah acara tersebut.
Kamiya juga menjalin pertemuan dengan pimpinan partai sayap kanan Jerman, AfD, serta berencana menghadirkan tokoh konservatif dari Prancis dan Inggris ke konferensi di Jepang.

Ambisi Politik dalam Negeri
Pemimpin Sanseito, Sohei Kamiya, menegaskan strategi internasional ini akan membantu partainya menantang dominasi Partai Demokrat Liberal (LDP) yang kini tengah mencari pengganti Perdana Menteri Shigeru Ishiba setelah koalisi kehilangan mayoritas.
Sanseito menargetkan 30 hingga 40 kursi dalam pemilu majelis rendah mendatang, cukup untuk mengajukan rancangan undang-undang dan membuka peluang koalisi kekuasaan.
“Japanese First” ala Trump
Slogan Sanseito, “Japanese First”, jelas terinspirasi dari “America First” milik Trump. Namun Kamiya menegaskan partainya bukan “pemuja Trump”. Ia justru mengkritik kebijakan dagang Trump dan menyebut Jepang harus menolak program investasi senilai USD 550 miliar yang dianggap merugikan.
Meski kerap menimbulkan kontroversi, termasuk komentar soal gender dan imigrasi, Kamiya mengatakan Sanseito ingin mengubah arah politik Jepang dengan cara yang lebih sesuai budaya lokal: mengutamakan harmoni dan konsensus, tanpa menjadi ekstrem.
“Pengakuan internasional akan membantu kami agar tidak ‘dihantam’ oleh status quo politik Jepang,” kata Kamiya.(red/reuters)












