Teheran, NusantaraTop.co – Pemerintah Iran melalui media semi-resmi mengumumkan masa berkabung nasional setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Media semi-pemerintah Iran, Fars News Agency, yang dikutip sejumlah media internasional melaporkan bahwa pemerintah Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional serta tujuh hari libur resmi negara.
Selain Fars, stasiun televisi pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) juga mengonfirmasi kabar wafatnya pemimpin tertinggi tersebut usai serangan besar-besaran yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Pemimpin tertinggi Iran telah syahid,” demikian laporan IRIB yang dikutip media internasional, Minggu (1/3).
Tewas Saat Bertugas di Kantor Resmi
Fars melaporkan Ali Khamenei tewas pada Sabtu dini hari waktu setempat di kantornya saat menjalankan tugas kenegaraan. Serangan tersebut disebut menghantam kompleks kediaman sekaligus pusat aktivitas resmi sang pemimpin.
Media Israel Channel 12, yang dikutip Times of Israel, menyebut sekitar 30 bom dijatuhkan ke kompleks kediaman Khamenei dalam operasi militer yang diklaim telah dikoordinasikan antara Amerika Serikat dan Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengonfirmasi kematian Khamenei. Pernyataan serupa juga disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengindikasikan kuat bahwa operasi militer tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989 dan menjadi otoritas politik serta keagamaan tertinggi di negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Iran Konfirmasi dan Umumkan Berkabung Nasional
Pada Minggu (1/3/2026), pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei dan langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Laporan media internasional juga menyebut sejumlah pejabat tinggi Iran turut menjadi korban dalam serangan tersebut, termasuk anggota keluarga Khamenei, Komandan Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour, serta Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh.
Pengganti Pemimpin Tertinggi Jadi Sorotan

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai situasi politik Iran ke depan sangat bergantung pada sosok pengganti Khamenei.
“Saat ini saya dengar penggantinya adalah putra Ali Khamenei. Namun menurut konstitusi Iran, bila belum ada Ayatollah pengganti, kekuasaan sementara dipegang Presiden, Ketua Mahkamah Agung, dan perwakilan ulama,” ujarnya kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
Menurut Hikmahanto, konflik berpotensi berkepanjangan apabila pemimpin baru Iran mengambil sikap keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Sebaliknya, perang bisa mereda jika pengganti Khamenei memilih pendekatan diplomatik untuk menghindari korban lebih besar.
Ia juga menyinggung kemungkinan perubahan rezim, termasuk munculnya tokoh yang lebih terbuka bekerja sama dengan Barat, bahkan figur dari luar lingkaran pemerintahan saat ini seperti keturunan keluarga kerajaan Iran terdahulu.
Dampak Geopolitik Global
Kematian Ali Khamenei diperkirakan akan membawa dampak besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan dinamika geopolitik global. Selain persoalan kepemimpinan internal Iran, arah kebijakan nuklir, hubungan diplomatik, serta dukungan terhadap kelompok proksi regional menjadi faktor utama yang kini menjadi perhatian dunia internasional.
Hingga saat ini, situasi keamanan di Iran dilaporkan masih dalam status siaga tinggi menyusul eskalasi konflik pascaserangan tersebut.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












