Pematangsiantar, NusantaraTop.co – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pusat Pematangsiantar saat ribuan umat Katolik memperingati Jumat Agung dengan mengikuti prosesi Jalan Salib di sepanjang Jalan Merdeka, tepat di depan Balai Kota, Jumat (3/4/2026).
Sekitar 1.400 jemaat dari berbagai paroki memadati lokasi untuk menyaksikan visualisasi penderitaan Yesus Kristus dalam ibadah Via Dolorosa. Prosesi berlangsung penuh penghayatan hingga memuncak pada adegan penyaliban yang mengundang isak tangis jemaat.
Tangis haru pecah saat pemeran Yesus dipaku di kayu salib. Di bawah terik matahari, umat tampak menundukkan kepala, sebagian tak mampu menahan air mata menyaksikan pengorbanan yang digambarkan secara nyata.
“Melihat Yesus disiksa dan disalibkan tadi, hati saya hancur. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengingat betapa besarnya dosa kita dan betapa luar biasa kasih-Nya,” ujar Samuel, salah satu jemaat yang hadir.
Ketua Panitia Paskah Katolik Kota Pematangsiantar, Sardianto Turnip, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah kota dan aparat keamanan dalam kelancaran kegiatan tersebut. Ia menilai penggunaan area Balai Kota untuk doa bersama menjadi simbol nyata toleransi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Pematangsiantar atas izin penggunaan area Balai Kota. Ini adalah bentuk toleransi yang luar biasa,” ujarnya.
Sardianto juga mengapresiasi jajaran kepolisian yang telah mengawal jalannya prosesi sehingga berlangsung tertib dan aman. Ia berharap semangat pengorbanan Yesus dapat menjadi refleksi bagi masyarakat untuk hidup dalam damai dan saling mengampuni.
Sementara itu, Kapolres Pematangsiantar, Sah Udur Togi Marito Sitinjak, memastikan seluruh rangkaian Tri Hari Suci berjalan lancar. Sebanyak 252 personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan berbagai kegiatan, mulai dari pawai obor, misa Kamis Putih hingga prosesi Jalan Salib.
“Terdapat delapan gereja yang melaksanakan Jalan Salib di luar gereja, termasuk gereja Katolik dan GKPS, sementara lainnya dilaksanakan secara internal,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kedewasaan masyarakat dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Menurutnya, perayaan Tri Hari Suci harus menjadi momentum refleksi diri dan memperkuat nilai toleransi.
“Bagi warga yang tidak merayakan, kami harap tetap saling menghormati sebagai wujud kecintaan terhadap kota ini,” pesannya.
Peringatan Jumat Agung tahun ini kembali menegaskan bahwa nilai iman dan toleransi dapat berjalan berdampingan. Di bawah bayang salib di depan Balai Kota, masyarakat diingatkan akan makna pengorbanan dan pentingnya menjaga persaudaraan dalam keberagaman.(red)












