Sudan, NusantaraTop.co – Hanya beberapa ribu warga Sudan berhasil mencapai kamp pengungsian terdekat sejak pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota El-Fasher, menimbulkan kekhawatiran atas nasib puluhan ribu lainnya yang masih terjebak di wilayah konflik. Laporan lembaga kemanusiaan menggambarkan situasi mengenaskan dengan pembunuhan massal dan kekerasan terhadap warga sipil.
RSF berhasil mengambil alih kendali atas wilayah Darfur Barat pekan lalu setelah mengusir tentara nasional Sudan dari El-Fasher, yang telah dikepung selama 18 bulan. Sejak itu, beredar berbagai kesaksian dan video yang menunjukkan tindakan brutal RSF, termasuk pemukulan, pembunuhan, dan kekerasan seksual terhadap warga sipil.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sedikitnya 460 orang tewas di rumah sakit, sementara Organisasi Migrasi Dunia (IOM) mencatat lebih dari 70 ribu orang mengungsi sejak kota itu jatuh ke tangan RSF. Namun, hanya sekitar 6.000 orang yang berhasil mencapai kamp pengungsian di Tawila, sekitar 65 kilometer dari El-Fasher.
“Jumlah pengungsi masih sangat sedikit. Jika warga masih bertahan di El-Fasher, mereka dalam bahaya besar,” ujar Shashwat Saraf, Direktur Sudan dari Norwegian Refugee Council. Ia menggambarkan para pengungsi yang tiba dalam kondisi dehidrasi, luka-luka, dan trauma berat, bahkan beberapa tidak ingat nama mereka sendiri.
Saraf juga mengungkapkan sekitar 170 anak-anak tanpa pendamping, sebagian masih berusia tiga tahun, tiba di kamp tanpa mengetahui keberadaan keluarga mereka.
Pemerintah Sudan Tuduh RSF Lakukan Kejahatan Perang
Duta Besar Sudan di Kairo, Imadeldin Mustafa Adawi, menuduh RSF melakukan kejahatan perang di El-Fasher. Ia menyerukan agar komunitas internasional menetapkan RSF sebagai organisasi teroris dan menuduh Uni Emirat Arab (UEA) memasok senjata kepada kelompok tersebut.
Adawi menegaskan pemerintah Sudan menolak bernegosiasi dengan RSF dan meminta tindakan nyata dari dunia internasional.
Sementara itu, pejabat senior UEA Anwar Gargash menolak menanggapi tuduhan tersebut secara langsung, namun mengakui bahwa komunitas internasional telah melakukan “kesalahan besar” dengan mendukung kedua jenderal yang kini berperang setelah menggulingkan pemerintahan sipil pada 2021.
UEA kini mendorong gencatan senjata kemanusiaan tiga bulan dan pembentukan pemerintahan transisi sipil dalam sembilan bulan ke depan.
Namun, kekhawatiran meningkat bahwa RSF akan memperluas serangan ke wilayah tengah Sudan setelah berhasil menguasai seluruh kawasan Darfur. Dalam serangan terbaru di wilayah Kordofan Tengah, 12 orang tewas, termasuk lima anak-anak, menurut jaringan medis Sudan Doctor Network.(red)
Sumber : Associated Press (AP)
Editor : Pahotan M Hutagalung












