KesehatanMancanegara

Satu Perempuan Meninggal Akibat Virus Nipah di Bangladesh, WHO Waspadai Potensi Penyebaran

×

Satu Perempuan Meninggal Akibat Virus Nipah di Bangladesh, WHO Waspadai Potensi Penyebaran

Sebarkan artikel ini
Keterangan foto: Tenaga medis mengenakan alat pelindung diri menggali makam untuk pemakaman korban yang meninggal akibat virus Nipah yang merusak otak di Kerala, India, tahun 2018. (Reuters)

Bangladesh, NusantaraTop.co — Seorang perempuan dilaporkan meninggal dunia akibat virus Nipah, penyakit langka yang menyerang otak dan ditularkan oleh kelelawar, yang kerap disebut para ahli sebagai salah satu ancaman pandemi berikutnya.

Kasus kematian terbaru ini dikonfirmasi terjadi di Bangladesh, negara yang hampir setiap tahun melaporkan infeksi virus Nipah. Virus ini memiliki tingkat kematian sangat tinggi, yakni antara 40 hingga 75 persen dari total kasus terinfeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, korban yang diperkirakan berusia antara 40 hingga 50 tahun itu mulai jatuh sakit pada 21 Januari di wilayah utara Bangladesh. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, kram otot, dan hilang nafsu makan.

Kondisinya kemudian memburuk dengan munculnya hipersalivasi, disorientasi, hingga kejang-kejang. Pada 27 Januari, korban tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit setempat. Ia meninggal dunia keesokan harinya setelah hasil tes menunjukkan positif virus Nipah.

WHO menyatakan korban tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah, namun diketahui mengonsumsi nira kurma mentah, yang merupakan sumber penularan Nipah paling umum karena kerap terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

Keterangan foto<br >Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi hingga sekitar 75 persen pada penderita yang terinfeksi menjadikannya salah satu penyakit zoonosis paling mematikan di dunia Getty Images

Sebanyak 35 orang yang sempat melakukan kontak erat dengan korban saat ini dalam pemantauan ketat dan seluruhnya dinyatakan negatif virus Nipah. Hingga kini, belum ditemukan kasus tambahan.

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan kawasan Asia, menyusul wabah Nipah di India, tepatnya di negara bagian Bengal Barat, yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. Pemerintah India sebelumnya mengarantina sekitar 200 orang setelah sedikitnya dua kasus terkonfirmasi.

Sejumlah negara Asia seperti Thailand dan Malaysia bahkan menerapkan pemeriksaan kesehatan ala Covid-19 di bandara untuk mencegah penyebaran lintas negara. Otoritas kesehatan Inggris juga menyatakan tengah memantau situasi dengan serius.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko penyebaran internasional masih rendah. Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) juga menyebut risiko bagi wisatawan sangat kecil selama mematuhi langkah pencegahan standar.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah dan babi, serta dapat menyebar antarmanusia melalui kontak dekat, batuk, atau bersin.

Belum ada vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah. Penanganan medis difokuskan pada perawatan suportif guna membantu pasien bertahan dari gejala berat seperti gangguan pernapasan dan pembengkakan otak (ensefalitis).

Para ahli menilai kecil kemungkinan Nipah memicu pandemi global, namun tetap mengingatkan dunia agar tidak lengah. Virus ini pertama kali ditemukan pada 1999 di Malaysia dan sejak itu rutin muncul di Bangladesh, dengan peningkatan kasus yang diduga dipicu oleh kerusakan habitat satwa liar yang memperdekat kontak manusia dan hewan.(red)

Sumber: The Sun

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights