Medan, NusantaraTop.co – Setiap tanggal 1 Mei, jutaan pekerja di berbagai belahan dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Momentum ini bukan sekadar hari libur, melainkan simbol perjuangan panjang kaum pekerja dalam menuntut hak-hak dasar yang layak dan manusiawi.
Sejarah mencatat, peringatan ini lahir dari gelombang aksi buruh pada abad ke-19 yang menolak kondisi kerja tidak adil. Dari jalanan Chicago hingga forum internasional di Paris, Hari Buruh tumbuh menjadi lambang solidaritas global kelas pekerja.
Dari Festival Musim Semi ke Simbol Perjuangan
Sebelum dikenal sebagai Hari Buruh, 1 Mei awalnya merupakan perayaan tradisional di Eropa sebagai penanda datangnya musim semi. Tradisi ini berakar dari festival Beltane yang dirayakan dengan tarian mengelilingi tiang maypole sebagai simbol kesuburan dan kehidupan baru.
Makna tersebut kemudian bergeser pada abad ke-19, ketika kaum pekerja di Amerika Serikat mulai menjadikan 1 Mei sebagai simbol perjuangan melawan jam kerja panjang dan kondisi kerja yang tidak manusiawi.
Awal Gerakan Buruh dan Tuntutan 8 Jam Kerja
Gerakan buruh di Amerika Serikat sudah muncul sejak awal 1800-an. Pada 1806, pekerja sepatu (Cordwainers) menggelar aksi mogok menuntut pengurangan jam kerja. Tokoh seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire menjadi pelopor perjuangan tersebut.
Pada 1882, parade Hari Buruh pertama digelar di New York dengan tuntutan utama delapan jam kerja sehari. Lima tahun kemudian, negara bagian Oregon menjadi yang pertama menetapkan Hari Buruh sebagai hari libur resmi.
Tragedi Haymarket yang Mengguncang Dunia
Puncak perjuangan terjadi pada 1 Mei 1886 melalui demonstrasi besar-besaran di Chicago. Sekitar 400.000 buruh turun ke jalan menuntut pengurangan jam kerja dari 10–16 jam menjadi delapan jam sehari.
Aksi tersebut berujung pada bentrokan berdarah dalam peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair. Insiden di Haymarket Square menewaskan ratusan pekerja dan memicu gelombang solidaritas buruh di seluruh dunia.
Pada 1890, lebih dari 300.000 orang turut serta dalam aksi May Day di London, menandai meluasnya gerakan buruh secara global.
Penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional
Momentum perjuangan tersebut mendorong lahirnya keputusan penting dalam Konferensi Sosialis Internasional 1889 yang menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
Sejak saat itu, peringatan May Day dirayakan di berbagai negara sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan terhadap perjuangan pekerja. Saat ini, Hari Buruh telah menjadi hari libur resmi di puluhan negara, meski tidak diakui sebagai hari libur nasional di Amerika Serikat.
Sejarah Hari Buruh di Indonesia
Di Indonesia, peringatan Hari Buruh pertama kali digelar pada 1 Mei 1918 di Semarang oleh serikat buruh Kung Tang Hwee. Tokoh seperti Adolf Baars turut menyuarakan perjuangan buruh yang saat itu menghadapi upah rendah dan kondisi kerja yang tidak layak.
Aksi mogok buruh terus berlanjut, termasuk oleh pekerja kereta api. Namun, pada 1926, peringatan Hari Buruh sempat ditiadakan. Baru pada 1 Mei 1946, pemerintah di era Kabinet Sjahrir kembali mengizinkan peringatan tersebut.
Pada masa Orde Baru, peringatan Hari Buruh kembali dibatasi bahkan dilarang, termasuk penghapusan istilah “buruh” yang diganti menjadi “karyawan”. Kebebasan memperingati May Day baru kembali muncul setelah era reformasi, di mana BJ Habibie meratifikasi konvensi kebebasan berserikat bagi pekerja.
Resmi Jadi Hari Libur Nasional
Hari Buruh akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Penetapan ini diumumkan pada 1 Mei 2013 dan mulai berlaku sejak 2014.
Langkah tersebut menjadi bentuk pengakuan negara terhadap peran penting pekerja dalam pembangunan, sekaligus mendorong terciptanya hubungan industrial yang lebih adil antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.
Hari Buruh bukan hanya tentang libur, tetapi tentang mengingat perjuangan panjang demi keadilan dan kesejahteraan para pekerja di seluruh dunia.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












