Sydney, NusantaraTop.co – Aksi teror penembakan mengguncang kawasan Bondi Beach, Sydney, pada Minggu malam waktu setempat. Serangan brutal yang terjadi saat acara komunitas Yahudi tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk seorang anak berusia 10 tahun, dan melukai puluhan lainnya.
Dua pelaku penembakan diketahui merupakan ayah dan anak, yakni Sajid Akram (50) dan Naveed Akram (24). Keduanya diduga melepaskan tembakan secara membabi buta menggunakan senjata api jenis shotgun dari atas jembatan penyeberangan di dekat klub selancar Bondi.
Laporan tembakan pertama diterima polisi sekitar pukul 18.40 waktu setempat, memicu kepanikan massal dan ratusan pengunjung pantai berlarian menyelamatkan diri. Aparat keamanan segera mengepung lokasi dan melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku.

Pahlawan Bondi Disanjung Pemerintah
Di tengah tragedi tersebut, seorang warga sipil bernama Ahmed Al Ahmed (43) dipuji sebagai pahlawan setelah dengan berani melumpuhkan dan merebut senjata salah satu pelaku, sehingga mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.
Ahmed mengalami luka tembak di lengan dan tangan dan harus menjalani operasi. Perdana Menteri Negara Bagian New South Wales (NSW), Chris Minns, secara langsung menjenguk Ahmed di rumah sakit.
“Ahmed adalah pahlawan nyata. Keberaniannya tanpa ragu telah menyelamatkan banyak nyawa,” tulis Minns dalam unggahan media sosialnya.
Solidaritas dan Donasi Mengalir
Pasca-serangan, ribuan warga Australia memadati pusat donor darah untuk membantu para korban. Palang Merah Australia bahkan melaporkan sistem pendaftaran sempat lumpuh akibat lonjakan relawan, khususnya untuk donor darah golongan O-negatif.

Tak hanya itu, sebuah penggalangan dana untuk Ahmed Al Ahmed juga dibuka dan berhasil menghimpun lebih dari 950 ribu dolar Australia dalam waktu kurang dari 24 jam. Donasi terbesar datang dari miliarder Amerika Serikat William Ackman, sebesar 99.999 dolar Australia.
Jejak Radikalisasi dan Perjalanan ke Filipina
Penyelidikan polisi mengungkap kedua pelaku sempat menghabiskan waktu sekitar satu bulan di Filipina, yang disebut aparat sebagai wilayah rawan pelatihan ekstremisme. Mereka kembali ke Australia dua pekan sebelum serangan.
Polisi juga menemukan senjata api, amunisi, bahan peledak rakitan, serta bendera ISIS yang diduga dibawa ke lokasi kejadian. Sajid Akram diketahui memiliki enam senjata api secara legal sebagai pemburu rekreasional.
Pemerintah Australia Perketat Hukum Senjata
Menanggapi serangan teror ini, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menggelar rapat National Cabinet dan mengutuk keras aksi teror bernuansa anti-Semit tersebut. Pemerintah sepakat untuk segera meninjau ulang Undang-Undang Senjata Api Nasional, yang pertama kali diberlakukan pasca tragedi Port Arthur 1996.
Langkah yang disiapkan pemerintah antara lain:
-
Pembatasan jumlah senjata yang boleh dimiliki warga sipil
-
Pengetatan izin kepemilikan senjata api
-
Pembentukan National Firearms Register
-
Pembatasan impor senjata dan teknologi senjata, termasuk pencetakan 3D
-
Syarat kewarganegaraan Australia bagi pemegang izin senjata
“Serangan teroris anti-Semit ini tidak punya tempat di Australia. Kebencian dan kekerasan harus diberantas hingga ke akar,” tegas Albanese.
Hingga kini, 27 korban luka masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Sydney, dengan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.












