NusantaraTop.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan menyerang Iran “sangat keras dalam sepekan ke depan”. Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintah AS mengeluarkan keringanan sebagian sanksi selama 30 hari terhadap pembelian minyak Rusia.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Israel dan Iran yang memicu gejolak harga energi global. Konflik yang terus memanas bahkan berdampak pada jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Trump mengatakan kebijakan keringanan sementara terhadap minyak Rusia diharapkan dapat menekan lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ketegangan tersebut membuat harga minyak dunia mengalami fluktuasi tajam mengikuti pernyataan Trump mengenai kemungkinan durasi perang.


Israel Gempur Iran, Hezbollah Jadi Target
Sementara itu, militer Israel terus melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Menurut militer Israel, lebih dari 200 target di Iran bagian barat dan tengah diserang dalam 24 jam terakhir, termasuk peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, dan fasilitas produksi senjata.
Israel juga dilaporkan menyebarkan selebaran ancaman kepada kelompok Hezbollah di Lebanon yang memperingatkan kemungkinan kehancuran seperti yang terjadi di Gaza jika konflik meluas.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel. Bahkan beberapa drone Iran dilaporkan terdeteksi memasuki wilayah udara Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.
Serangan juga menelan korban di pihak Amerika Serikat. Militer AS mengonfirmasi bahwa enam awak pesawat pengisian bahan bakar di udara tewas setelah pesawat mereka jatuh di wilayah Irak barat.
Pemimpin Iran Hadiri Aksi Dukungan Palestina
Media Iran melaporkan seorang perempuan tewas akibat serangan udara di dekat aksi peringatan Quds Day di Teheran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, serta pejabat keamanan Ali Larijani terlihat menghadiri aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan militer.
Kepala peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyatakan masyarakat Iran tidak gentar menghadapi serangan tersebut.
“Rakyat tidak takut terhadap serangan ini. Seperti yang Anda lihat, mereka tetap turun ke jalan meski dalam kondisi sulit. Kami tidak akan mundur,” ujarnya.
Ukraina dan Eropa Kritik Kebijakan AS
Keputusan Amerika Serikat memberikan kelonggaran terhadap pembelian minyak Rusia menuai kritik dari sejumlah negara Eropa dan Ukraina.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut sebagian besar negara anggota G7 menilai langkah tersebut bukan sinyal yang tepat.
Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kebijakan itu berpotensi memberi Rusia tambahan pendapatan hingga 10 miliar dolar AS.
Trump sendiri menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin membantu Iran dalam konflik tersebut, meski tidak menjelaskan bentuk bantuan yang dimaksud.
Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya konflik, pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan negaranya akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara tetangga agar menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
Jika tidak, Iran mengancam akan menyerang target-target tersebut.
Situasi ini semakin meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan meluasnya konflik besar di Timur Tengah yang dapat berdampak serius pada stabilitas geopolitik dan ekonomi global.(red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












