Glendale, Arizona, NusantaraTop.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut mendiang aktivis konservatif Charlie Kirk sebagai “martir bagi kebebasan Amerika” saat menghadiri upacara peringatan yang berlangsung di State Farm Stadium, Glendale, Arizona, Minggu (21/9).
Dalam pidatonya, Trump kembali menuding “radikal kiri” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan pendiri Turning Point USA itu. “Kekerasan sebagian besar datang dari kiri,” kata Trump tanpa menyertakan bukti.
Acara memorial Kirk yang dipadati lebih dari 60 ribu pelayat berlangsung layaknya gabungan antara kebaktian akbar dan kampanye politik. Ribuan orang hadir dengan mengenakan atribut merah, putih, dan biru serta pakaian bertema MAGA (Make America Great Again).
Tangisan Istri dan Pesan Pengampunan
Istri Kirk, Erika Kirk, yang kini memimpin Turning Point USA, menyampaikan penghormatan emosional kepada suaminya. “Charlie meninggalkan dunia tanpa penyesalan. Ia melakukan 100 persen dari apa yang bisa ia lakukan setiap hari,” ucap Erika sambil menengadah ke langit dengan air mata.
Ia bahkan menyatakan pengampunan kepada pria berusia 22 tahun yang didakwa membunuh suaminya. “Suamiku ingin menyelamatkan anak-anak muda, bahkan seperti orang yang telah merenggut hidupnya,” kata Erika yang langsung mendapat tepuk tangan haru dari para pelayat.
Tokoh Politik Beri Pidato Menggelegar
Sejumlah pejabat tinggi hadir dalam acara tersebut, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Kehadiran mereka menegaskan besarnya pengaruh politik Kirk.
Vance menegaskan kemenangan Trump pada pemilu lalu tidak lepas dari peran Kirk dalam menggerakkan pemilih muda. “Kami tidak akan berada di sini tanpa Charlie,” ujarnya.
Sementara penasihat senior Gedung Putih Stephen Miller menyebut kematian Kirk sebagai titik balik gerakan konservatif. “Kalian tidak tahu naga apa yang kalian bangunkan,” katanya penuh amarah.
Trump sendiri tampil dengan nada paling tajam. Ia menegaskan perbedaan antara dirinya dan Kirk: “Charlie tidak membenci lawannya. Di situlah saya berbeda. Saya membenci lawan-lawan saya,” ujarnya, disambut sorak tepuk tangan dari massa.
Ketakutan Akan Kekerasan Politik Meningkat
Charlie Kirk, 31 tahun, ditembak mati saat menjawab pertanyaan dalam sebuah acara kampus di Utah. Hingga kini motif pelaku masih diselidiki, meski sejumlah pesan yang ditemukan pada barang bukti memicu spekulasi keterkaitan dengan kelompok politik tertentu.
Kematian Kirk memicu kekhawatiran meningkatnya kekerasan politik di AS, sekaligus memperdalam polarisasi antara kelompok konservatif dan liberal.
Mantan anggota kongres sekaligus Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, memperingatkan bahwa pembunuhan ini menunjukkan pola fanatisme politik yang bisa berujung pada teror. “Namun suara Charlie kini lebih keras dari sebelumnya,” ujarnya.
Acara memorial ditutup dengan Trump menggandeng Erika Kirk ke atas panggung, diiringi lagu “America the Beautiful” yang berkumandang di stadion penuh sesak.(red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












