KYIV, Ukraina, NusantaraTop.co — Ukraina melancarkan serangan jarak jauh terhadap infrastruktur militer penting Rusia, termasuk pabrik amunisi besar, terminal minyak, dan gudang senjata di wilayah belakang garis depan, Senin (6/10/2025). Serangan ini disebut sebagai upaya terbaru Kyiv untuk menekan logistik militer Moskow.
Staf Umum Ukraina menyatakan, serangan drone dan rudal menghantam Pabrik Amunisi Sverdlov di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia bagian barat, pada malam hari. Serangan itu memicu ledakan besar dan kebakaran di fasilitas yang memproduksi bom udara, peluru artileri, serta amunisi anti-pesawat dan anti-tank untuk pasukan Rusia.
Selain itu, Ukraina juga menargetkan terminal minyak di Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia, menyebabkan kebakaran besar, serta menghancurkan gudang amunisi milik Tentara Gabungan ke-18 Rusia.
Pihak berwenang Rusia mengakui adanya serangan drone besar-besaran Ukraina di 14 wilayah, termasuk Krimea dan sekitar Laut Hitam serta Laut Azov. Mereka mengklaim sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh 251 drone, menjadikannya salah satu serangan terbesar sejak perang dimulai pada 24 Februari 2022.
Gubernur Nizhny Novgorod, Gleb Nikitin, mengatakan pertahanan udara berhasil menggagalkan serangan 20 drone Ukraina di kawasan industri tempat pabrik amunisi berada, tanpa menyebabkan kerusakan fasilitas.
Sebelumnya, serangan jarak jauh Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah menyebabkan kekurangan bahan bakar di dalam negeri pada Agustus lalu.
Produksi Senjata Dalam Negeri Meningkat
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa seluruh serangan tersebut menggunakan senjata buatan dalam negeri.
“Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina menggunakan senjata buatan sendiri, tidak hanya drone,” kata Zelensky dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Belanda Dick Schoof di Kyiv.
Zelensky juga menyebut, kemampuan produksi senjata dalam negeri terus ditingkatkan untuk menggantikan ketergantungan terhadap bantuan militer Barat yang belum pasti. “Kami berharap memiliki kemampuan yang lebih besar, tetapi itu sangat bergantung pada dukungan finansial,” ujarnya.
Pemerintah Ukraina kini memproduksi 40 unit artileri self-propelled Bohdana setiap bulan, naik signifikan dari hanya 10 unit per bulan pada April 2024. Tahun lalu, industri pertahanan Ukraina memproduksi dan mengirimkan 2,4 juta peluru ke garis depan.
Zelensky menyebutkan bahwa lebih dari 40% senjata yang digunakan pasukan Ukraina di garis depan kini merupakan hasil produksi dalam negeri. Ia menambahkan, kelebihan produksi tersebut akan mulai diekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah untuk memperoleh dana pembelian sistem pertahanan canggih yang belum bisa diproduksi sendiri, seperti sistem rudal Patriot buatan AS.
“Waktunya telah tiba untuk mengekspor senjata buatan Ukraina — jenis senjata yang sudah kami produksi secara berlebih — agar bisa membiayai pengadaan sistem pertahanan yang sangat dibutuhkan,” kata Zelensky.
Dengan langkah ini, Ukraina berharap dapat memenuhi setidaknya setengah dari kebutuhan senjata tentaranya pada akhir tahun ini, sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasionalnya.(red/AP)












