Singapore, NusantaraTop.co – Harga minyak global naik untuk hari kedua pada Rabu (24/9) setelah laporan industri menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) menurun. Kondisi ini menambah sentimen pasar terkait pasokan yang semakin ketat.
Minyak mentah Brent naik 19 sen atau 0,3% menjadi US$67,82 per barel pada pukul 04.00 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 21 sen atau 0,3% ke level US$63,62 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan reli lebih dari US$1 per barel sehari sebelumnya, setelah kesepakatan untuk melanjutkan ekspor dari Kurdistan, Irak, kembali menemui jalan buntu. Pipa ekspor ke Turki masih terhenti sejak Maret 2023, padahal kesepakatan diharapkan bisa mengalirkan kembali sekitar 230.000 barel per hari.
Menurut analis senior LSEG, Emril Jamil, harga minyak akan tetap didukung oleh gangguan pasokan, termasuk dari Rusia. Namun, ruang kenaikan lebih lanjut masih dibatasi oleh ketidakpastian keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS.
Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 3,82 juta barel pada pekan yang berakhir 19 September. Sementara stok bensin menurun 1,05 juta barel, dan distilat justru naik 518.000 barel. Data resmi dari pemerintah AS dijadwalkan rilis hari ini.
Selain itu, Reuters melaporkan bahwa perusahaan energi raksasa Chevron hanya bisa mengekspor sekitar separuh dari produksi 240.000 barel per hari minyak mentah Venezuela, menyusul aturan baru pemerintah setempat. Hal ini berpotensi mengurangi pasokan minyak berat ke pasar global.
Kurs Rupiah terhadap Dolar Singapura
Berdasarkan data pasar pagi ini (24/9), nilai tukar rupiah berada di level sekitar Rp11.600 per 1 dolar Singapura (SGD). Pergerakan kurs dipengaruhi oleh penguatan harga minyak serta sentimen global terkait kebijakan moneter The Fed
Pada 24 September 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran US$ 1 = Rp16.660 (mid-market).
Dengan demikian:
-
Harga Brent US$ 67,82 → sekitar Rp 1.131.569 per barel
-
Harga WTI US$ 63,62 → sekitar Rp 1.060.475 per barel
(red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












