DaerahSumut

JIIC: Sepuluh Kecamatan di Kota Medan Masuk Daerah Rawan Banjir, Drainase dan Tata Ruang Jadi Sorotan

×

JIIC: Sepuluh Kecamatan di Kota Medan Masuk Daerah Rawan Banjir, Drainase dan Tata Ruang Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Medan Rico Waas bersama Anggota DPRD Medan Jusuf Suka Ginting meninjau banjir yang terjadi di Jalan Luku, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (11/10/2025) malam. Foto: kaldera.id

Medan, NusantaraTop.co (Senin, 13/10/2025)
Dikutip dari JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendikia Volume 2 Nomor 4, April 2025 (E-ISSN: 3047-7824), penelitian berjudul “Analisis Pemetaan Daerah Rawan Banjir di Kota Medan (Kartografi)” mengungkap bahwa sepuluh kecamatan di Kota Medan tergolong rawan banjir.

Penelitian yang dilakukan oleh Rachel Tobing, Valerina Sinaga, Sahala Fransiskus Marbun, Escha Purba, dan Ester Siagian dari Universitas Negeri Medan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data sekunder dari berbagai literatur dan kajian pustaka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepuluh kecamatan yang rawan banjir antara lain:
Medan Sunggal, Medan Johor, Medan Petisah, Medan Helvetia, Medan Maimun, Medan Polonia, Medan Selayang, Medan Baru, Medan Amplas, dan Medan Tuntungan.

Menurut laporan JIIC, faktor utama penyebab banjir di Kota Medan meliputi curah hujan tinggi, meluapnya sungai, sistem drainase yang buruk, serta pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.

Banjir di sejumlah wilayah juga dipicu oleh kurangnya pengelolaan drainase, tidak konsistennya penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), minimnya upaya konservasi air, serta penurunan muka tanah di beberapa kawasan.

Penelitian ini merekomendasikan berbagai langkah mitigasi, di antaranya:

  • Penerapan pembangunan berwawasan lingkungan;
  • Pola hidup bersih masyarakat;
  • Penerapan konsep “Waterfront City” dan “One River One Management”;
  • Pembuatan sumur resapan;
  • Pencegahan land subsidence melalui injeksi air tanah dalam;
  • Peningkatan koordinasi lintas instansi dan stakeholder.

Berdasarkan data cuaca, bulan Oktober menjadi periode dengan curah hujan tertinggi di Kota Medan, mencapai rata-rata 253 milimeter, sedangkan Februari merupakan bulan dengan curah hujan terendah (86 milimeter).

JIIC menekankan pentingnya penguatan sistem drainase kota, termasuk pembangunan kolam retensi dan sumur resapan, untuk mengendalikan limpasan air permukaan serta menjaga kestabilan air tanah.

Penelitian ini menegaskan, tanpa perbaikan sistem drainase dan penataan ruang yang konsisten, banjir berpotensi terus menjadi langganan tahunan bagi warga Kota Medan.(red)

Sumber : JIIC Unimed

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights