MancanegaraNewsRagam

Kontroversi Pangeran Andrew: 20 Tahun Tinggal Gratis di Royal Lodge, Tagihan Air Jarang Dibayar

×

Kontroversi Pangeran Andrew: 20 Tahun Tinggal Gratis di Royal Lodge, Tagihan Air Jarang Dibayar

Sebarkan artikel ini
Keterangan Foto : 1. Keterangan foto: Pangeran Andrew tetap tinggal di kediaman mewahnya, Royal Lodge, meski telah melepaskan gelar Duke of York. Foto: Refer to source / ©2025 2. Sejumlah demonstran membentangkan spanduk menyerukan tindakan di depan gerbang kediaman Pangeran Andrew, Royal Lodge, Windsor. Foto: Simon Jones / ©2025 3.Pangeran Andrew berpose bersama Virginia Giuffre yang saat itu berusia 17 tahun dan Ghislaine Maxwell. Foto: Collect / ©2025

London, NusantaraTop.co — Tekanan terhadap Pangeran Andrew kembali meningkat setelah terungkap bahwa adik Raja Charles III itu tinggal di kediaman mewah Royal Lodge, Windsor, tanpa membayar sewa selama lebih dari dua dekade. Lebih mengejutkan lagi, ia disebut hanya membayar tagihan air “dari waktu ke waktu”, sementara masyarakat Inggris harus menghadapi kenaikan biaya hidup yang signifikan.

Informasi mengenai perjanjian sewa 75 tahun yang didapat Andrew memicu kemarahan publik dan parlemen Inggris. Berdasarkan dokumen yang diungkap The Sun, Pangeran Andrew hanya diwajibkan menanggung biaya pemeliharaan gedung — bukan sewa ataupun tagihan utilitas secara rutin.

Tagihan air di kawasan tersebut diperkirakan mencapai £743 (sekitar Rp15 juta) per tahun, namun Andrew diyakini kerap melewatkannya. Padahal, sejak 2001, tagihan air untuk warga Inggris telah naik hingga 168 persen.

Selain tidak membayar sewa, Andrew yang kini berusia 65 tahun juga terus tinggal di istana berisi 30 kamar itu, meski telah melepaskan gelar Duke of York pekan lalu akibat serangkaian skandal.

Desakan Publik dan Korban Epstein

Kemarahan publik juga datang dari para penyintas perdagangan manusia yang menjadi korban mendiang Jeffrey Epstein, sosok yang pernah dikaitkan dengan Andrew.
Salah satu korban, Marijke Chartouni, mendesak agar Andrew keluar dari Royal Lodge dan menyumbangkan potensi pendapatan sewanya untuk lembaga amal korban perdagangan manusia.

“Sudah seharusnya ia hengkang dan menjadikan tempat itu bermanfaat bagi korban,” ujar Chartouni.

Pengacara Spencer Kuvin, yang mewakili para korban Epstein, juga menilai keberadaan Andrew di properti tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap rakyat Inggris.
“Ia seharusnya menafkahi dirinya sendiri, bukan terus ditopang oleh publik,” ujarnya.

Baca Juga : Kisah Perdagangan Seksual yang ‘Endingnya’ Berujung Kematian, Nama Pangeran Andrew Terseret!

Tekanan dari Kerajaan dan Parlemen

Pangeran Andrew mengambil alih Royal Lodge setelah kematian Ratu Ibu Elizabeth pada 2003. Dalam kontrak dengan Crown Estate, terdapat klausul yang memungkinkan pengusiran bila ia tidak memenuhi kewajiban perawatan properti.

Raja Charles disebut telah meminta sang adik untuk meninggalkan Royal Lodge dan mencari tempat tinggal baru. Namun Andrew menolak, memicu apa yang dijuluki media Inggris sebagai “Pengepungan Royal Lodge” (Siege of Royal Lodge).

Sejumlah anggota parlemen Inggris pun menyerukan agar lembaga audit negara (National Audit Office) meninjau kembali kesepakatan sewa tersebut.
Anggota Partai Buruh Dame Meg Hillier menegaskan, “Selama ada kepentingan publik dan uang negara yang terlibat, parlemen wajib memastikan transparansi.”

Sementara itu, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat, Lisa Smart, mendesak Andrew untuk menunjukkan penyesalan.
“Ia seharusnya mengembalikan setiap penny yang tidak dibayar selama menodai nama keluarga kerajaan,” katanya.

Dukungan Publik untuk Cabut Gelar

Survei YouGov menunjukkan 80 persen warga Inggris mendukung pencabutan resmi gelar kebangsawanan Andrew. Sebanyak 63 persen bahkan “sangat setuju” bahwa Andrew tidak lagi layak memegang gelar “Duke of York”.

Crown Estate dan Istana Buckingham menolak berkomentar terkait temuan ini, termasuk mengenai kondisi pemeliharaan bangunan yang ditinggali Andrew dan mantan istrinya, Sarah Ferguson, yang masih tinggal di sana sejak 2008.

Editor: Pahotan M Hutagalung
Sumber: The Sun, YouGov, dan berbagai sumber internasional

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights