Jakarta | NusantaraTop.co (23/10/2025) — Perdebatan sengit antara akademisi dan peneliti keamanan multimedia, Rismon Hasiholan Sianipar, dengan Muhammad Nuh Al Azhar, mantan ahli forensik digital Mabes Polri, kembali mencuri perhatian publik. Aksi saling sanggah antara dua sosok ini terekam dalam video yang viral di berbagai platform media sosial.
Rismon, yang dikenal sebagai akademikus dan peneliti di bidang keamanan multimedia, kriptografi, dan forensik digital, mendatangi langsung kantor Ditjen Dukcapil untuk menemui Muhammad Nuh Al Azhar. Kedatangan itu disebut-sebut berkaitan dengan perdebatan lanjutan soal data digital dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin, atau yang populer dengan istilah Kasus Kopi Sianida dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso.
Rismon Geruduk dan Tantang Debat Terbuka
Dalam video berdurasi sekitar 13 menit yang beredar luas, tampak Rismon menantang Muhammad Nuh untuk berdebat terbuka di hadapan media.
“Nggak usah berdua, di sini aja live, di depan publik,” ucap Rismon menolak ajakan M. Nuh untuk berbicara secara tertutup.
Perdebatan keduanya memanas saat Rismon mempertanyakan penggunaan perangkat lunak IRC Shop yang disebut muncul dalam metadata file digital pada kasus Jessica.

“Kenapa anda pakai IRC Shop? Anda tahu meta data?” tanya Rismon dengan nada tinggi.
“Itu ilmiah, kita hanya melakukan pemeriksaan digital dari flash disk yang diserahkan penyidik,” jawab Muhammad Nuh.
Dialog mereka menjadi semakin tegang ketika Rismon menyebut bahwa software tersebut bisa menjadi bukti adanya rekayasa dalam proses forensik digital.
“Anak orang dipenjara 20 tahun hanya karena software itu! Ahli rekayasa kau!” seru Rismon lantang.

Latar Belakang Kasus Kopi Sianida
Kasus kematian Wayan Mirna Salihin pada 6 Januari 2016 di Kafe Olivier, Grand Indonesia, sempat mengguncang Indonesia. Mirna tewas usai meneguk es kopi Vietnam yang kemudian terbukti mengandung sianida.
Polisi menetapkan Jessica Kumala Wongso, sahabat Mirna, sebagai tersangka dan ia akhirnya dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Kasus ini menjadi fenomena nasional karena disiarkan secara langsung di berbagai stasiun televisi dan terus menimbulkan perdebatan di kalangan publik hingga kini.
Profil Singkat Dua Tokoh
Rismon Hasiholan Sianipar (lahir 25 April 1977) dikenal sebagai peneliti dan akademikus di bidang pemrosesan sinyal digital, kriptografi, dan keamanan multimedia. Ia juga aktif menulis buku serta membimbing mahasiswa di berbagai universitas.
Sementara itu, Kompol Muhammad Nuh Al Azhar merupakan Kepala Tim Analis Forensik Digital (DFAT) Puslabfor Mabes Polri. Ia telah menangani sejumlah kasus besar, termasuk kasus kopi sianida dan sidang penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Nuh juga tercatat sebagai lulusan terbaik bidang Forensic Informatics dari University of Strathclyde, Inggris, serta penerima penghargaan New York State Police (2004).
Publik Menanti Debat Ilmiah Terbuka
Meski perdebatan tersebut berakhir ketika M. Nuh meninggalkan lokasi, Rismon menyatakan akan kembali meminta klarifikasi ilmiah secara terbuka.
“Saya akan datang lagi. Kebenaran harus disiarkan, ini milik rakyat!” tegasnya di hadapan awak media.
Video dan pernyataan kedua tokoh ini kini menjadi topik panas di berbagai platform, memicu kembali diskusi publik mengenai keabsahan bukti digital dan transparansi dalam proses hukum kasus Jessica Kumala Wongso. (red)
Editor : Tim Redaksi NusantaraTop.co












