KesehatanPendidikanTeknologi & Digital

OpenFold3 Buka “Kotak Hitam” AlphaFold3 untuk Dunia Sains dan Industri

×

OpenFold3 Buka “Kotak Hitam” AlphaFold3 untuk Dunia Sains dan Industri

Sebarkan artikel ini
Model kecerdasan buatan OpenFold3 mampu memprediksi bagaimana protein berinteraksi dengan berbagai molekul lain. Tampak diagram pita prediksi OpenFold3 terhadap struktur protein (biru) dibandingkan dengan hasil eksperimental (abu-abu). Kiri: protein manusia PDE10, target potensial untuk obat skizofrenia baru, dengan molekul penghambat di dalamnya. Kanan atas: Interferon regulatory factor 4, target obat multiple myeloma, berikatan dengan DNA. Kanan bawah: antibodi yang menempel pada protein lain. Sumber: Lukas Jarosch

Medan, NusantaraTop.co, 31 Oktober 2025 – Dunia bioteknologi kembali bergetar. Sebuah model kecerdasan buatan baru bernama OpenFold3 resmi diluncurkan pada 28 Oktober lalu, membuka akses luas terhadap sistem AI paling canggih untuk memprediksi interaksi antara protein dan molekul kecil seperti obat-obatan.

OpenFold3 merupakan hasil rekonstruksi terbuka dari AlphaFold3, platform ciptaan Google DeepMind yang dikenal mampu memprediksi struktur protein dan hubungannya dengan senyawa lain termasuk asam nukleat dan bahan kimia dalam obat.

Jika AlphaFold3 hanya dapat digunakan untuk tujuan non-komersial, OpenFold3 kini membuka pintu bagi industri farmasi dan peneliti global untuk mengembangkan obat dengan lisensi terbuka.

Proyek Kolaboratif Skala Besar

Model ini dikembangkan oleh konsorsium ilmuwan yang dipimpin oleh Mohammed AlQuraishi dari Universitas Columbia. Mereka membedah sistem AlphaFold3 dari nol dan menciptakan model baru yang bisa digunakan secara bebas.

Menurut Woody Sherman, Ketua Komite Eksekutif OpenFold sekaligus pendiri Psivant Therapeutics, kemampuan memprediksi pasangan protein dan molekul sangat penting karena “biologi tidak bekerja dalam isolasi, melainkan melalui interaksi antar biomolekul.”

Dari AlphaFold2 ke OpenFold3

Pencapaian besar DeepMind sebelumnya, AlphaFold2, telah merevolusi cara ilmuwan memahami bentuk protein dan bahkan diganjar Nobel Kimia 2024. Namun, berbeda dengan pendahulunya, kode AlphaFold3 sempat ditutup dari publik hingga ratusan ilmuwan menandatangani petisi menuntut transparansi.

“Sulit menilai akurasi tanpa melihat kode mentahnya,” ujar Stephanie Wankowicz, ahli biologi komputasi dari Universitas Vanderbilt. Ia menilai keterbukaan kode sangat penting untuk mengevaluasi reliabilitas dan meningkatkan kemampuan model.

Tantangan dan Terobosan

Rekonstruksi ini bukan tanpa tantangan. Banyak trik teknis dalam AlphaFold3 yang tidak terdokumentasi secara eksplisit, membuat replikasi sempurna hampir mustahil. Meski begitu, tim OpenFold3 berhasil mendekati performa aslinya dan kini berupaya menambahkan unsur dinamika biologis, seperti efek air dan ion dalam sel — sesuatu yang belum tercakup dalam model AI sebelumnya.

Kolaborasi Global Industri Farmasi

Menariknya, sebelum rilis resminya, lima perusahaan farmasi besar sudah bergabung dalam Federated OpenFold3 Initiative, proyek kolaboratif yang dijalankan oleh perusahaan teknologi Apheris di Berlin.

Masing-masing perusahaan melatih model AI pada ribuan pasangan protein–obat milik mereka secara lokal, lalu Apheris menggabungkannya menjadi versi global tanpa membocorkan data rahasia. Model gabungan ini diharapkan menjadi fondasi bagi sistem prediksi obat yang lebih kuat dan akurat.

Langkah Awal Era Baru Penemuan Obat

Meski masih dalam tahap awal, para peneliti yakin OpenFold3 akan mempercepat proses penemuan obat dan memahami penyakit dengan lebih baik.

“Ini baru permulaan,” ujar Sherman.

“Tahap-tahap berikutnya akan menjadi momen ketika kita benar-benar melihat dampak nyata pada penemuan obat di dunia nyata.”

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights