NusantaraTop.co – Nvidia kembali mencetak rekor keuangan setelah permintaan global terhadap chip kecerdasan buatan (AI) melonjak tajam. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu melaporkan laba dan pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah pada periode Februari-April 2026.
Dalam laporan keuangan terbarunya, Nvidia membukukan laba sebesar 58,3 miliar dolar AS atau naik 37 persen dibanding kuartal sebelumnya dan melonjak lebih dari 200 persen secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan perusahaan mencapai 81,6 miliar dolar AS, meningkat 20 persen dibanding kuartal sebelumnya dan naik 85 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Nvidia juga memproyeksikan pendapatan kuartal berjalan bakal menyentuh 91 miliar dolar AS, melampaui sebagian besar estimasi analis pasar.
Pertumbuhan terbesar berasal dari bisnis pusat data (data center) yang menjadi tulang punggung penjualan chip AI Nvidia. Pendapatan divisi tersebut tercatat melonjak 92 persen secara tahunan menjadi 75,2 miliar dolar AS.
Adapun unit perangkat keras Nvidia membukukan pendapatan sebesar 6,4 miliar dolar AS atau naik 29 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham, Nvidia mengumumkan program pembelian kembali saham senilai tambahan 80 miliar dolar AS. Perusahaan juga menaikkan dividen tunai kuartalan dari 0,01 dolar AS menjadi 0,25 dolar AS per saham.

“Permintaan telah meningkat secara luar biasa. Alasannya sederhana, era agentic AI telah tiba,” kata Huang dalam konferensi bersama investor dan analis.
Ia menjelaskan bahwa AI kini tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah mampu melakukan pekerjaan produktif dan bernilai secara semi-otomatis.
Meski kembali melampaui ekspektasi analis, respons pasar terhadap laporan keuangan Nvidia terbilang datar. Saham Nvidia justru turun sekitar 1,3 persen dalam perdagangan setelah jam bursa.
Penurunan itu dinilai mencerminkan ekspektasi pasar yang sangat tinggi terhadap perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari 5 triliun dolar AS tersebut.
Analis senior Seaport Research, Jay Goldberg, mengatakan investor kini mulai menuntut pembuktian lebih besar dari sektor AI.
“Ekspektasi sudah sangat tinggi. Ketika perusahaan seperti Nvidia terus tampil luar biasa dalam waktu lama, pasar membutuhkan sesuatu yang benar-benar baru untuk kembali antusias,” ujarnya.
Goldberg menilai banyak saham teknologi melonjak tajam tahun ini, namun sebagian besar masih didorong optimisme dan pengumuman perusahaan, bukan penggunaan AI secara luas oleh konsumen.
Sementara itu, CEO GraniteShares, William Rhind, menilai kenaikan dividen dan pembelian kembali saham menunjukkan Nvidia memiliki arus kas yang sangat besar.
“Ketika penggunaan modal mulai diarahkan ke buyback dan dividen, itu menandakan perusahaan hypergrowth mulai memasuki fase lebih matang,” katanya.
Menurut Rhind, kondisi tersebut bukan sinyal negatif, melainkan bentuk pertumbuhan baru yang lebih stabil bagi Nvidia.
Manajer portofolio Gabelli Funds, John Belton, juga menyebut laporan keuangan Nvidia masih sangat solid, meski tidak menghadirkan kejutan besar baru seperti kuartal-kuartal sebelumnya.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












