
Medan Belawan, NusantaraTop.co – Warga Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, kembali dihantui banjir pasang air laut yang menjadi langganan setiap akhir tahun. Namun, pasang kali ini disebut warga sebagai yang terparah di bulan November 2025.
Sejak Selasa (4/11) hingga Kamis (6/11/2025), sejumlah wilayah padat penduduk di Medan Belawan, seperti Kelurahan Belawan Bahagia dan Kelurahan Bagan Deli, terendam air laut pasang dengan ketinggian mencapai 2,8 meter. Air mulai naik setiap malam sekitar pukul 11.00 WIB dan baru surut menjelang pagi hari.
Upaya pemerintah daerah untuk menanggulangi banjir dengan pompa air belum membuahkan hasil maksimal. Beberapa unit pompa dikabarkan mengalami kerusakan, sehingga tak mampu menahan derasnya air pasang yang menerobos ke pemukiman warga.
“Pompa air bantuan dari pemerintah sudah beberapa kali rusak, padahal itu jadi andalan kami setiap kali banjir datang,” ujar Novi Hutahaean, warga Kelurahan Belawan Bahagia, Kamis (6/11/2025).
Novi, ibu dua anak balita, mengaku harus begadang setiap malam untuk menjaga anak-anaknya agar tidak kedinginan akibat air yang masuk ke rumah.

“Sudah tiga malam kami tidak bisa tidur nyenyak. Air masuk sampai ruang tamu, anak-anak saya harus digendong karena lantai rumah tergenang,” katanya.
Sementara itu, Parulian Hutagalung, warga Kelurahan Bagan Deli, menyebut banjir pasang di daerahnya sudah berlangsung hampir tiga hari dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.
“Tiap malam air naik sampai 2,8 meter. Biasanya jam 11 malam mulai naik, dan surut sekitar jam 4 pagi,” ungkap Parulian.
Menurut warga, kondisi terparah terjadi di daerah perbatasan Belawan–Marelan, di mana beberapa rumah warga terendam hingga ke dalam rumah. Namun, kawasan Belawan Kota yang telah memiliki tanggul beton relatif aman dari genangan.

Hingga berita ini diturunkan, pada pukul 11.00 WIB, air pasang di Kelurahan Bagan Deli belum sepenuhnya surut. Warga berharap pemerintah segera memperbaiki pompa air yang rusak dan memperkuat tanggul penahan pasang, agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun. (red)
Laporan & Editor : Pahotan M Hutagalung












